Saturday, February 2, 2013

Antara Novel dan Film (Bagian II)


Kini saya akan membahas tentang film yang lebih buruk dari versi novel yang diadaptasinya. Saya rasa pilihan itu harus saya berikan kepada Harry Potter and the Prisoner of Azkaban (saya benci harus mengatakan ini). Masalahnya begini, saya amat menyukai Prisoner of Azkaban. Ini merupakan novel Harry Potter favorit saya yang kedua setelah Harry Potter and Half-Blood Prince. Bagi saya Prisoner of Azkaban adalah nomor pembuka sekaligus yang memulai pendewasaan cerita Harry Potter. Ayah baptis yang (katanya) membunuh orang tuanya dan sahabat orang tuanya sekaligus menjadi antek Voldemort, Harry yang mulai naksir (maksudnya sudah mulai muncul Cho Chang disini) dan peta Perampok yang ternyata tidak semenyenangkan itu. Semua dimulai dari nomor ini dan salah satu adegan favorit saya dihilangkan begitu saja di versi filmnya, yaitu ketika Ron berteriak histeris dan mengatakan Sirius Black ada di atas dirinya ketika ia tidur sambil memegang pisau. Saya ingat ketika membaca bagian itu, saya merasa deg-degan dan cukup takut (maklum masih SMP kelas berapa itu) dan membuat tidak sabar melanjutkan untuk membacanya. Tapi pada versi filmnya? Hanya dimasukkan ke dalam fitur “Deleted Scenes” DVD-nya!! BLAH!! Belum lagi penjelasan tentang kenapa Harry memilih Sirius daripada Peter. Pada versi film hal tersebut tidak jelas. Satu lagi, kesannya Firebolt hanya numpang lewat padahal kan tidak seperti itu. Tapi harus diakui visualisasi Dementor adalah sempurna. Membuat bulu kuduk berdiri ketika menontonnya pertama kali dan "time travel"-nya juga menarik, lebih menarik daripada novelnya. Tapi tetap saja novel Prisoner of Azkaban mempunyai tempat khusus di hati saya dan filmnya mengacaukan itu
                    .

                Lalu ada The Lovely Bones. Novelnya begitu pahit, dari halaman pertama hingga halaman terakhir. Ketika membaca novelnya rasanya sedih berkepanjangan, meskipun ada bagian yang manis tapi tetap saja membuat sedih. Tapi juga ada bagian yang menegangkan, yaitu ketika adik Susie menerobos masuk rumah pembunuh Susie. Wah seru banget. Tapi bagaimana dengan filmnya? Bagian tersebut hambar, kayak “kentang” (kena tanggung) gitu lah. Bagi saya filmnya juga terlalu fokus terhadap visualnya terutama efek visualnya ketika Susie di dunia peralihan antara bumi dan akhirat. Indah memang tetapi malah tidak fokus pada ceritanya. Bahkan akting Stanley Tucci sebagai pembunuhnya pun kurang berasa (Apalagi dia mendapat nominasi Oscar lewat film ini! Yah, tapi saya tetap menyukai Tucci sebagai aktor). Apabila dikurangi bagian surganya, saya rasa filmnya bisa menjadi lebih bagus. Saya tidak pernah berminat untuk menonton filmnya lagi, tetapi saya masih berminat untuk membaca kembali novelnya.
                                        
                Seperti yang telah saya sebutkan tadi, selain Prisoner of Azkaban, seri Harry Potter lain yang saya sukai adalah Harry Potter and the Half-Blood Prince yang merupakan seri ke-6 dari serial Harry Potter. Saya menyukainya karena pada akhirnya kita mengetahui masa lalu Voldemort walaupun tidak terlalu mendetil. Dan karena diceritakannya masa lalu Voldemort, maka kita jadi memahami mengapa ia menjadi luar biasa mengerikan bahkan karena diceritakannya masa lalu Voldemort, saya terkadang merasa iba terhadapnya. Penyihir dengan bakat luar biasa tetapi sayang kehidupannya tidak bahagia sehingga menjadi pembunuh. Pada novelnya diceritakan kisah dibalik masing-masing Horcrux milik Voldemort. Saya menyukai sejarah. Jadi apalagi yang lebih baik daripada sejarah dalam kisah Harry Potter. Apalagi kisah-kisah tersebut memiliki sangkut-paut dengan 3 pendiri Hogwarts. Sedangkan pada versi filmnya kisah masa lampau tersebut benar-benar dihilangkan, hanya disebut sepintas selalu, kecuali bagian Dumbledore mengunjungi Tom Riddle cilik. Ah Anda tidak tahu betapa hancurnya saya (cailah) ketika mengetahui tidak ada kisah tersebut. Padahal sejak pengalaman dengan film Prisoner of Azkaban, saya sudah terbiasa melupakan sejenak kisah yang ada novel ketika menonton film yang didasari dari novel yang telah saya baca. Tapi tetap saja, kisah masa lalu Voldemort terlalu sulit untuk dilupakan meskipun hanya sejenak. Tapi sebenarnya film Half-Blood Prince apabila dilihat dari segi film secara utuh adalah film yang bagus. Sinematografinya, akting Daniel Radcliffe yang sagat kelihatan telah berkembang dan juga film yang sebenarnya gelap tapi tetap lucu.
                                  
                Selain film yang sama baik dengan novelnya, lebih baik dari novelnya ataupun lebih buruk dari novelnya ada juga film yang hampir sama baiknya dengan novelnya tapi tidak sebaik itu. Mengerti? Oke, jadi gini kalau novelnya mendapat nilai 9 maka filmnya mendapat nilai 7 atau 8. Penyesuaian cerita yang tidak mengganggu jalan cerita secara utuh atau tidak kehilangan jiwanya ketika menjadi film. Tapi filmnya masih tetap kalah bagus daripada novelnya. Ribet ya?
                 Oke yang pertama adalah The Hunger Games. Filmnya bagus tapi tidak sekeras dan sesadis novelnya. Ya filmnya terpaksa tidak bisa seperti novelnya karena mangikuti hukum alam Hollywood apalagi kalau bukan soal pemasukan alias uang. Dengan gambaran seperti novelnya, harusnya rating filmnya adalah R, yaitu penonton di bawah 17 tahun harus ditemani yang berumur 17 tahun ke atas, sedangkan film The Hunger Games memiliki rating PG-13, yaitu penonton berumur di bawah 13 tahun harus ditemani yang telah berumur 13 tahun ke atas. Paham bukan? Ini yang sangat disayangkan. Hal yang paling menarik dari versi novelnya adalah pertarungannya alias The Hunger Games yang berdarah itu. Saya sampai tidak tahan untuk tidak menyelesaikannya. Sampai saat ini The Hunger Games adalah rekor tercepat saya dalam membaca novel, yaitu 2 hari. Sedangkan dalam filmnya, adegan The Hunger Games tidak berdarah dan “ramah” walaupun cepat dan tidak kehilangan maksud dari ajang tersebut. Filmnya amat ditolong oleh para pemainnya dan penyutradaraan yang cepat dan masih memiliki jiwa novelnya. Oya adegan favorit saya di filmnya adalah ketika Katniss berlari di tengah hutan yang terbakar sambil direkam dengan gaya "handheld". Lalu ada juga ketika menghitung mundur dimulainya kompetisi The Hunger Games dan jangan lupakan ketika pengambilan acak tribut The Hunger Games di Distrik 12. Adegan-adegan tersebut yang menurut saya mengangkat filmnya walaupun saya masih berharap pertarungannya lebih berdarah.Haha. 
                                   
                Selain itu ada pula The Help. Versi novelnya begitu hangat dan manis meskipun juga pahit. Sedangkan versi filmnya tidak sehangat novelnya. Selain itu peran Minny menjadi lebih kecil walaupun tetap penting. Novelnya juga menarik karena bercerita dari mata 3 karakter utamanya, yaitu Skeeter, Aibileen dan Minny. Sedangkan filmnya lebih dari kacamata Skeeter. Tetapi filmnya ditolong oleh para pemainnya yang berakting dengan pas bahkan luar biasa memikat. Selain itu, akhir cerita versi film juga lebih menohok daripada versi novelnya. Tapi tetap saja versi novelnya lebih baik karena lebih hangat.
                                 
                Ada juga The Perks of being a Wallflower. Ketika saya membaca novelnya, saya tidak akan menyangka akan sedalam itu, membuat menghela napas, melihat kembali masa-masa SMA saya dan merindukannya serta cerita yang begitu jujur, tulus dengan “soundtrack” novel yang menarik (saya jadi tau The Smiths ya karena novel ini, haha). Karakter-karakternya dan ceritanya begitu kuat sampai-sampai masih saya pikirkan beberapa hari setelah selesai membacanya. Sedangkan untuk versi filmnya, meskipun para pemain utamanya (Logan Lerman, Emma Watson dan Ezra Miller) tampil dengan luar biasa tapi tetap saja saya merasa ada yang kurang tapi sampai sekarang, saya tidak tahu apa yang kurang itu. Ada yang kurang pokoknya. Tapi filmnya tetap bisa membuat saya tertawa, menangis (karena ingat tante saya yang sudah tiada dan saya tidak malu untuk mengakui kalau saya menangis karena ingat beliau), berpikir dan merindukan masa-masa remaja saya, terutama masa SMA (Yaolo kangen banget!). Mungkin filmnya tidak sedalam novelnya? Entahlah.
                             
                Tapi ada juga loh film adaptasi yang saya tidak dapat memutuskan sama baik, lebih baik atau lebih buruk dari novelnya. Contohnya adalah The Hobbit: An Unexpected Journey. Saya suka novelnya. Buku dongeng untuk anak. Tapi kok tiba-tiba dibuat menjadi 3 film untuk buku setipis itu? Cerita di film juga bercabang dan kurang fokus terhadap inti ceritanya, yaitu perburuan emas di sarang Smaug. Tapi masalahnya filmnya juga tetap asik untuk ditonton. Saya lebih setuju pendapat kalau filmnya “tidak perlu dibuat” atau dibuat satu film saja sudah cukup.
Itulah pendapat saya beserta contoh singkatnya. Saya rasa hal yang wajar apabila versi film lebih buruk bahkan buruk sekali daripada versi novelnya. Satu alasan saja, masalah durasi. Bayangkan novel yang rata-rata setebal 400-500 halaman dipadatkan menjadi 2-2,5 jam. Itupun 2,5 jam sudah terbilang lama untuk film masa kini. Bayangkan setebal itu untuk durasi selama itu. Kalau tidak salah 1 halaman naskah itu untuk satu menit durasi film. Berarti untuk 2 jam durasi dibutuhkan 120 halaman naskah. Sulit bukan. Tapi saya rasa itu kembali lagi kepada pembuat filmnya, yaitu sutrada dan penulis naskahnya. Kalau ada sutradara yang sukses mengadapati novel menjadi film kenapa yang lain tidak bisa. Beda materi? Sulit memvisualkan? Terbatas durasi? Yah saya rasa harusnya pihak yang memang sudah memutuskan untuk mengadaptasi juga harus sadar kalau mereka memiliki tanggung jawab moral terhadap penulis novelnya dan terutama pembaca novelnya. Saya rasa dengan begitu akan tumbuh sendiri kemauan besar untuk mengadaptasi dengan baik.
Tapi ada yang saya mau tanyakan. lebih baik membaca novelnya dulu atau menonton filmnya terlebih dahulu? Karena setelah dipikir-pikir, kalau membaca trerlebih dahulu biasanya jadinya akan menilai novelnya lebih baik daripada filmnya (Misalnya serial harry Potter). Tapi kalau menonton filmnya terlebih dahulu, biasanya saya akan merasa filmnya sama bagusnya dengan novelnya (Misalnya The Ghost Writer). Jadi bagaimana menurut Anda?
(Btw saya sedang membaca Pride and Prejudice loh, jadi tidak sabar judul ini tergolong kategori yang mana dan pssst.. saya tidak begitu menantikan versi film Bumi Manusia kalau memang jadi dibuat. Lalu bagaimana dengan versi film 5 cm? Saya tidak peduli! Sama sekali tidak!)

3 comments:

  1. Gue udah memisahkan antara buku dan filmnya. Mereka dua karya seni yang berbeda. Makanya, lebih enak nonton film kalau baca bukunya sudah lama dan agak-agak lupa. Biar enggak ada berahi untuk membandingkan. Nonton filmnya baru baca bukunya juga pilihan yang baik. Baca bukunya jadi lebih gampang terbayangkan dan lebih cepat dan hal-hal yang tak muncul di film jadi kejutan sendiri dan itu meningkatkan kepuasan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya itu bener, emang bagusnya kalo kita udah baca bukunya terus nonton filmnya, ada baiknya dilupain sejenak bukunya dan itu cukup berhasil loh. Tapi seperti yang gue bilang kalo nonton filmnya dulu baru baca bukunya, seringnya mikir filmnya lebih menarik. Susah emang.

      Delete
  2. membaca novel dan menonton film itu punya sensasi yg berbeda. kalo aku lebih suka membaca novel, karena imajinasi kita bisa berkembang lebih leluasa

    ReplyDelete