Monday, January 11, 2016

FAKE.

Anna : Elsa? Haaaaaai...!!! *heboh*
Elsa : Anna? Darimanaaa...? *balik heboh*


Kejadian di atas terjadi di sepasang eskalator yang berlawanan arah di sebuah mall premium di bilangan Jakarta dimana kedua wanita tersebut hanya sekadar berpapasan di eskalator tersebut tanpa memiliki perbincangan lebih lanjut. Saya pun menimpali kejadian tersebut (dimana saya kebetulan mengenal keduanya dan pada saat kejadian berlangsung berada persis di sebelah salah satunya), “lo ramah amat sama dia? Dia kan dulu ga disukain sama temen2 les gue. Gue dulu sekelas lesnya sama dia” yang lalu ditimpali oleh kawan saya itu, “aaah gue juga cuma fake aja kok, gue juga ga suka sama dia”. Duaar..!!! Saya tidak menyadari saat itu kalo temen saya itu kurang menyukai teman kami tersebut meskipun kejadian saling berpapasan heboh tersebut terlihat tulus. Ternyata saya salah.

Kejadian tersebut telah terjadi beberapa bulan yang lalu kalau tidak salah sekitar 3 bulan yang lalu dan saya masih ingat dengan jelas bagaimana setelah teman saya bilang kalo dia “cuma fake aja” kepada teman kami tersebut, saya langsung berpikir seberapa seringkah kita bersikap fake atau palsu kepada orang lain, terutama kepada yang tidak kita sukai bahkan kita benci? Sebaik apakah akting kita dalam bersikap fake tersebut? Dan mengapa kita harus bersikap fake?
Karena masih dihantui kejadian tersebut, saya kadang berpikir apakah saya pernah dalam posisi teman saya tersebut, sebut saja si Elsa, yang bersikap palsu kepada orang yang tidak saya sukai. Jawabannya, sering. Saya sendiri dikenal oleh orang-orang di sekitar saya sebagai pribadi yang to-the-point, pribadi yang “I ain’t taking no shit from others and say no shit” yang diibaratkan apabila saya mengikuti kontes Miss Universe, saya tidak mungkin mendapatkan gelar Miss Congeniality.

Meskipun saya adalah pribadi yang blak-blakan dan apa adanya tentu saja saya pernah bersikap palsu terhadap orang yang tidak saya sukai bahkan saya benci. Ketika mengingat kembali mungkin saya sudah melakukan hal ini semenjak saya SMA ketika saya tidak menyukai beberapa kakak kelas saya dan demi keamanan posisi saya di sekolah, saya harus bersikap manis kepada mereka. (Tolong, jangan berasumsi saya anak yang femes ketika SMA hanya karena saya mengatakan “posisi saya”, I was invicible. Totally). Kenapa saya harus bersikap manis ketika diri saya sendiri tidak menyukai mereka. Jawabannya sederhana, SMA saya bukanlah sekolah dimana Anda bisa bersikap semau Anda, sekolah dimana senioritas adalah makanan sehari-hari yang lebih awam daripada nasi sekalipun.

Saya ingat salah satu kakak kelas saya luar biasa drama queen, semua hal dipermasalahkan bahkan ketika cintanya ditolak pun bisa nangis berderai-derai. (Jeez, I’m gonna be killed because of this). Saya dan teman-teman saya luar biasa tidak suka kepada dia bahkan beberapa teman saya yang tidak berada di lingkup pertemanan saya pun bercerita kalo mereka tidak suka dengan si kakak kelas ini. Tapi kami semua bersikap manis dengan beberapa alasan. Pertama, kami tidak mau mencari masalah dengan pribadi yang emosinya naik turun. Kedua, kami tidak mau mencari masalah yang ujungnya bisa memperuncing perselisihan antar angkatan yang bisa berdampak mimpi buruk (tapi juga bisa menguntungkan sih, sekolah libur di waktu tidak umum? Ikut!). Ketiga, saya tidak mau dicirikan oleh kakak kelas saya tersebut lalu lama-lama dicirikan juga oleh kakak kelas saya yang lainnya (pede aja).

Lalu berlanjut ketika kuliah dimana meskipun saya sama sekali tidak menyukai salah seorang pegawai sekretariat kampus saya, saya harus luar biasa manis demi perkuliahan saya lancar meskipun pegawai tersebut pernah membuang muka di depan saya tanpa alasan yang jelas atau pernah dijutekin lebih dari 10x. Dan jangan tanya dengan kondisi saya saat ini. Jangan.

Saya pun pernah memperhatikan orang lain yang dengan jelas bersikap seperti ini. Saya pernah datang ke sebuah bank bonafide di negeri ini dimana petugas customer service yang melayani saya memeberikan senyuman dan sambutan yang langsung dibatini oleh saya, “Yaelah mbak, saya aja palsunya masih lebih baik daripada mba padahal mba kerja di perusahaan yang lebih wow”. Bahkan kalo mau gampangnya pramugari sekelas pramugari Garuda Indonesia pun sering saya perhatikan bersikap ramah yang luar biasa palsu. Saya bisa paham dengan sikap mereka yang pasti lelah melayani ratusan bahkan ribuan orang yang berperangai berbeda-beda. Belum lagi, mengingat saya pernah dalam sebulan bisa sekian kali bolak-balik memakai pesawat, saya yakin bekerja di udara bukanlah hal yang benar-benar nyaman.

Jadi kembali lagi ke pertanyaan awal saya, seberapa seringkah, seberapa baikkah dan mengapa kita bersikap palsu? Saya rasa apabila Anda sudah bekerja, Anda akan memainkan kartu fake tersebut lebih sering daripada ketika Anda kuliah, seberapapun usaha tulus Anda untuk menunjukkan sinyal “saya cuma mau kerja kok, ga mau macem-macem”. Ketika anda berada di lingkungan kerja, Anda tidak bisa memilih rekan kerja Anda, tidak seperti ketika kuliah atau sekolah dimana kita bisa memilih teman-teman kita. Ketika di lingkungan kerja, Anda harus berhadapan dan bekerja sama dengan berbagai macam manusia mulai dari yang senang bergosip (me!), pekerja keras ataupun pain in the ass. Ketika Anda berhadapan dengan pegawai yang pekerja keras, saya yakin Anda pada satu titik juga terbawa arus kinerjanya. Kadang Anda ingin bersantai dulu tetapi melihat rekan kerja Anda begitu rajinnya sehingga membuat Anda harus juga ikut lebih rajin daripada biasanya. Fake #1. Ketika Anda bekerja dengan si bigos jangan tanya seberapa sering Anda harus bersikap manis kepadanya. Anda tidak mau kan jadi bahan gosip kemana-mana olehnya. Fake #2. Lalu bagaimana dengan yang pain-in-the-ass? Tergantung kalo menurut saya. Tergantung kondisi. Ada saatnya Anda harus blak-blakan ada saatnya Anda harus masa bodoh ada saatnya Anda harus palsu. Fake #3.

Saya sendiri terkadang (atau sering kali) harus bersikap palsu mengingat pekerjaan saya yang membuat saya sering bertemu dengan pihak luar. Ketika saya sedang lelah, kesal, ngantuk ataupun sedih, saya harus melayani pihak luar dengan sebaik yang saya mampu, memberikan senyuman terbaik saya, menebarkan keramahan dengan seanggun mungkin. Hal ini pada akhirnya berujung kepada pertanyaan mengapa kita bersikap palsu. Sederhana saja, saya tidak mau nama baik tempat saya bekerja tercoreng hanya karena saya menolak untuk bersikap palsu. Untuk bersikap ramah meskipun suasana hati saya sedang tidak ingin beramah tamah. Ketika saya sendiri tidak pernah nyaman untuk bertemu dengan orang baru apalagi harus memulai perbincangan yang luwes. Bagaimanapun, kantor saya adalah tempat saya mencari nafkah, menimba ilmu, mencari pengalaman hidup dan paling penting tempat dimana membiayai gaya hidup saya yang terlalu seberapa ini. Haha.

Apakah saya sebaik itu ketika bersikap palsu? Sayangnya tidak. Saya ingat seseorang atau bahkan banyak orang yang bilang kalo saya tidak menyukai sesuatu langsung tergambar di wajah saya. Semudah itu. Tapi percayalah saya sangat mampu bersikap palsu dengan lihai. Saya ingat kejadian ketika saya makan siang dengan salah seorang rekan. Saya sedang luar biasa kesal dan ngedumel tentang suatu hal lalu satu detik kemudian saya menerima telepon dari salah seorang “stakeholder” kantor saya. Ketika menjawab telepon suara dan nada saya langsung berubah total. Ketika saya mengakhiri pembicaraan lewat seluler, teman saya tersebut langsung terperangah dan bilang, “gila! gue salut sama lo, bisa langsung berubah drastis dari marah jadi ke super ramah dan manis kayak gitu”. Kesimpulannya sih, tergantung yang dihadapi siapa. Kalo bigos yaaa Anda harus selihai mungkin. Kalo pain-in-the-ass saya rasa seorang ustad, rabi atau pendeta pun pasti sabarnya terbatas. Terkadang Anda akan menunjukkan ketidaksukaan Anda pada si pain-in-the-ass ini.

Bersikap palsu juga bagi saya bisa bertujuan untuk melindungi perasaan orang yang kita hadapi ketika kita tidak memiliki keberanian untuk menunjukkan kejujuran dengan cara yang baik. Seberapa seringkah Anda menunjukkan kejujuran dengan cara yang baik kepada orang yang Anda tidak sukai? Saya yakin jarang atau bahkan tidak pernah. Kita sebagai manusia sering kali tidak memiliki keberanian atau kemampuan menjelaskan dengan baik kepada orang yang kita tidak sukai mengapa kita tidak suka mereka. Dengan cara yang seminim mungkin menyakiti mereka. Karena kita tidak mampu atau tidak berani maka kita memilih jalan yang lebih sederhana, yaitu palsu. Meskipun kita tahu terkadang kita tidak berhasil dalam bersikap palsu. Atau mungkin bukan karena Anda tidak bisa menjelaskan tetapi karena Anda tidak memiliki satu alasan pun mengapa Anda tidak menyukai orang tersebut. Seperti yang pernah saya katakan kepada salah seorang rekan tentang alasan kenapa saya tidak menyukai seseorang, “You don’t have to have valid reason to hate someone. You just hate them. Period.”

Intinya bersikap palsu adalah makanan kita sehari-hari tergantung alasannya. Untuk melindungi perasaan kah, untuk menjaga posisi aman kah, untuk menyudahi kelelahan batinkah, kita semua pernah di posisi palsu tersebut. Pernah melakukannya. Jadi sebenernya tidak pada tempatnya juga kan kita menghakimi orang-orang yang pernah melakukan ini. Hmmmm, tapi memang sih menghakimi orang lain begitu nikmat karena untuk sejenak kita dapat melupakan kepalsuan kita terhadap diri sendiri.

Psssttt... tapi jangan membiasakan bersikap palsu daripadalama-lama berubah menjadi si pain-in-the-ass. Semua ada kadar normalnya kecuali ya si pain-in-the-ass.


Wednesday, December 24, 2014

[Ulasan] Pendekar Tongkat Emas

      Jadi, setelah menunggu sekian lama untuk film Pendekar Tongkat Emas akhirnya saya berhasil juga menonton film ini hari Sabtu yang lalu. Saya rasa saya jarang sekali menantikan untuk menonton film lokal. Biasanya saya tidak pernah benar-benar menunggu sebuah film lokal tayang karena biasanya pula saya hanya reflek ketika menonton film lokal. Siapa pemainnya atau siapa sutradaranya. Tapi untuk kasus Pendekar Tongkat Emas berbeda. Saya pertama kali mengtahui tentang film ini adalah dari seorang teman saya dan akhirnya saya mencari tahu tentang film ini. Wow! Pemainnya top, sutradaranya top dan produsernya pun top. Saya semakin menunggu lah karena dua film lokal yang saya tonton tahun ini kualitasnya agak di bawah ekspektasi saya.
      Sebenarnya, plot cerita film ini sangat sederhana tetapi saya tidak akan membeberkan total plot ceritanya karena buat saya itu tidak asik sama sekali. Berkisah tentang Cempaka yang diperankan oleh Christine Hakim yang merupakan seorang pendekar yang disegani di dunia perseilatan antah berantah yang memiliki Tongkat Emas yang legendaris. Ia memiliki 4 orang murid, yaitu Biru (Reza Rahadian), Gerhana (Tara Basro), Dara (Eva Celia) dan Angin (pendatang baru, Aria Kusumah), yang kesemuanya adalah anak dari para pendekar yang pernah dikalahkan oleh Cempaka. Suatu hari Cempaka memutuskan akan mewariskan Tongkat Emas kepada salah satu muridnya yang dianggap olehnya memiliki kualitas sebagai Pendekar Tongkat Emas. Maka dari itu ia akan mengajari jurus silat yang sangat jarang dikuasai dengan baik oleh pendekar lain, yaitu jurus Tongkat Emas Melingkar Bumi. Ketika Cempaka memutuskan salah seorang muridnya maka timbulah rasa iri di hati murid-muridnya yang lain. Dari sinilah kisah berkembang walaupun tidak begitu banyak.
      Jujur, bagi saya plot PTE cukup lambat sehingga akan menimbulkan rasa bosan bagi penonton yang mengharapkan murni hiburan dari sebuah film. Tapi bagi saya hal ini tidak masalah karena saya sudah terbiasa menonton film-film yang "berat" walaupun saya akui saya sempat mengalami kebosanan di beberapa adegan dari film ini. Saya pribadi bukan penggemar film silat karena jujur dari kecil saya lebih terbiasa nonton film-film blockbuster Hollywood yang bertempo dinamis. Tapi saya rasa PTE adalah tipikal film silat kebanyakan (berdasarkan dari beberapa film silat yang pernah saya tonton, misalnya Crouching Tiger Hidden Dragons). Kisah PTE sendiri buat saya sulit diulas. Bagi saya loh ya. Tidak banyak aspek cerita yang bisa saya ulik. Kisahnya memang kisah kebaikan melawan kejahatan. Mungkin karena ini bisa dibilang film keluarga jadi kisahnya memang sengaja tidak dibuat rumit.
       Penampilan para aktornya pun terasa sulit berkembang. Christine Hakim seperti biasa memukau kita semua. Seluruh keletihan baik fisik maupun batin yang pernah ia alami begitu terasa, terutama melalui suaranya sebagai narator di awal film ini. Reza Rahadian pun juga tampil baik. Hanya melalui ekspresi wajahnya, kita dapat memahami kekecewaannya dan kemarahannya. Eva Celia pun juga tampil tidak buruk. Tapi yang mencuri perhatian saya adalah aktor cilik yang memerankan karakter Angin, yaitu Aria Kusumah. Ia tidak banyak berbicara tetapi aktingnya efektif. Ia selalu mencuri perhatian di setiap adegan ia muncul. Berakting dengan dialog saja sudah sulit apalagi hanya dengan mengandalkan ekspresi wajah atau bahasa tubuh. Saya merasa terpukau olehnya. Kalaupun aktor yang tampil agak mengecewakan bagi saya adalah Nicholas Saputra. Bagi saya aktingnya datar dan kurang emosi sehingga saya tidak merasakan apa-apa dari karakternya. Bahkan karakter dingin rangga pun lebih berasa loh. Belum lagi akting Tara Basro yang sedikit mengganggu, misalnya kenapa ia harus selalu seperti tersenyum di tiap adegan, bahkan di adegan dimana ia harus marah. Tapi setelah saya perhatikan setelah menonton PTE, memang wajahnta seperti itu. Tapi karena dia seksi maka mudah dimaafkan. Plus matanya indah dan unik! (FYI, saya juga baru tau kalo ia adalah adik dari seorang temen saya ketika SD, yang notabene-nya ia pernah bersekolah di SD saya dan ia masih juga tinggal di satu komplek dengan saya!! Lumayanlah pernah kenal dengan orang femes walaupun berabad-abad tidak pernah ketemu san saya yakin kakaknya pun lupa dengan saya).
    Jualan utama film ini, yaitu adegan silatnya sangat bisa diacungi jempol. Sangat keren dan memukau. Walaupun saya yakin para aktornya menggunakan stuntman tapi saya tetap kagum dengan penampilan semua aktor utamanya dalam beradegan silat. Terlihat sungguhan dan dapat dipercaya. Cepat dan dinamis. Adegan silat terakhir di film ini adalah buktinya. Epik!!! Cukup menegangkan dan seperti tidak menyisakan ruang untuk bernapas bagi penontonnya. Jempol untuk Ifa Isfansyah sang sutradara (yang juga pernah menyutradarai salah satu film favorit saya, Sang Penari) yang mengarahkan film ini. Setau saya para aktornya digembleng selama berbulan untuk dapat menguasai dengan baik silat di film ini.
    Untuk urusan teknis film ini juga juara. Scoring film ini sangat juara. Lengkingan nyanyian tradisional ketika salah satu karakter utamanya dimakamkan sangat menyayat hati tapi juga indah di sisi lain. Saya sampai menunggu hingga bagian credit title loh untuk tau siapa komposernya. Ternyata Erwin Gutawa. Ga heran!!! Selain itu tata kostum oleh Chitra Subiyakto juga membuat saya kagum sampai-sampai saya kepengen banget suatu hari nanti bisa beli dan pake pakaian-pakaian yang dikenakan oleh pemainnya, seperti tenun Sumba dengan warna netral. Chitra Subiyakto perlu diacungi jempol karena dapat membuat kostumnya bukan seperti kostum yang baru dibuat melainkan seperti sudah lama dikenakan karena bagi saya salah satu kelemahan film lokal adalah tata kostum yang kadang kurang meyakinkan. Setting zaman perang atau zaman dulu tapi seperti pakaian baru yang baru dicuci atau dibeli. Tidak realistis. Tapi PTE tidak. Tapi saya langsung sadar yang kita bicarakan adalah penata kostum sekelas Chitra Subiyakto sih ya jadi ga heran.
     Sinematografi film ini juga menjadi salah satu titik paling unggul atau bahkan paling unggul dari PTE. Kita disajikan pemandangan indah Sumba, NTT yang berupa perbukitan kecil, padang sabana serta pantai yang indah yang mebuat saya makin merana karena makin ngiler pengen kesana. Saya menyesal lupa nama sinematografer untuk film ini (saya mempunyai penyakit untuk harus tau siapa-siapa saja nama orang di belakang layar sebuah film yang bagus). Bagi beberapa teman saya terkadang membuat pusing karena editing yang cepat dan terkadang terlalu zoom sehingga membuat kepala mereka pusing, tapi saya kok tidak ya? 
    Saya harus mengacungi jempol bagi Mira Lesmana dan Riri Riza sang produser yang sekali lagi mau mengeksplorasi bagian Indonesia yang lain untuk dijadikan lokasi syuting. Selain itu dengan ide mereka yang cerdas untuk membuat film silat yang lebih ramah bagi penonton Indonesia (karena The Raid tidak ramah untuk Anda yang stres liat darah bukan?). Saya selalu menyukai dynamic dua ini karena setia untuk memproduksi film-film bermutu walaupun belum semua film mereka saya tonton. Ouch!
     Meskipun memiliki kekurangan yang tidak begitu banyak di sana-sini tapi kita harus sangat mengapresiasi siapapun yang terlibat dalam Pendekar Tongkat Emas. Atas jerih payah mereka untuk memberika tontonan yang berkualitas bagi masyarakat Indonesia. Saya selalu berharap semoga ke depannya banyak film Indonesia yang memiliki kualitas sebaik Pendekar Tongkat Emas. 
      Selesai menonton film ini ada perasaan bangga ternyata ada film Indonesia sebaik ini, dalam artian selama ini saya hanya menonton film lokal yang bagus banget hanya dari genre drama tetapi PTE adalah drama action. Bangga karena masih ada sineas lokal yang masih mau memproduksi film dengan kualitas seperti ini di tengah sikap apatis masyarakat Indonesia terhadap film lokal, film dari negerinya sendiri. Saya bangga pula saya telah menjadi bagian dari penonton yang telah menikmati film ini. Pendekar Tongkat Emas juga membuat saya berjanji pada diri saya sendiri agar mulai tahun 2015 untuk lebih sering lagi menonton film-film Indonesia yang bagus tentunya. Saya akan berusaha menepati janji saya itu.
       Sekali lagi, saya acungi jempol dan mengucapkan terima kasih kepada siapapun yang terlibat dalam film ini (dan juga yang mau menonton film ini!). Terima kasih kepada kalian semua.

Tuesday, December 23, 2014

10 Most Fascinating Women in Hollywood - 2014

       Setelah absen pada daftar ini untuk tahun 2013, saya memutuskan untuk kembali membuat daftar ini. Karena pada dasarnya, mood menulis saya lagi kambuh, dalam artian yang baik. Selain itu, tentu saja karena kecintaan saya sedari kecil terhadap dunia pop culture. Menurut saya, tahun 2014 adalah tahun yang luar biasa bagi wanita di Hollywood. Begitu banyak nama-nama yang begitu memukau sepanjang tahun, jadi jangan heran apabila saya menemukan kesulitan untuk memilihnya. Maaf apabila tidak Scarlett Johansson dalam daftar ini. Kariernya tidak pernah sebaik ini. Memukau di Under the Skin, tampil sebagai "badass sidekick" di Captain America dan memegang kontrol penuh di Lucy. Atau Kerry Washington yang masih menjadi pembicaraan berkat perannya di Scandal. Atau Taylor Swift yang menjadi musisi wanita pertama yang berhasil menjual tiga albumnya lebih dari satu juta kopi dalam minggu peluncurannya. Tapi bukankah Taylor Swift termasuk wanita muda yang selalu memukau? Atau Iggy Azalea dan video klip Fancy-nya yang "instant iconic". Atau Kim Kardashian yang "literally breaking the internet" thanks to her infamous bottom and her marriage to always eccentric Kanye West. 
      Tapi bagi saya daftar tahun ini disusun karena saya melihat hal-hal menarik dalam diri nama-nama ini. Prestasi dan karakter adalah yang paling penting. Bagaimana apakah sudah dapat dimulai?

10. Kendall Jenner
  Oh, saya yakin Anda bertanya bagaimana bisa seorang Kardashian/Jenner bisa masuk ke daftar ini karena jelas-jelas mereka tidak mempunyai bakat yang jelas. Yah, bagi saya Kendall berbeda. Yang paling cantik? Iya, bagi saya. Tapi bukan karena itu tapi lebih karena ia saat ini adalah model yang paling dibicarakan dan umurnya baru saja 19 tahun. 
     Ia telah berjalan di pergelaran busana di New York, Milan dan Paris. Ia telah memeragakan karya dari Chanel, Givenchy, Tommy Hilfiger, Diane von Furstenberg dan Marc Jacobs. Baru saja ia menjadi wajah terbaru merk make-up ternama Estee Lauder. 
    Ia bukan tipikal bintang reality show yang biasa kita lihat. Ia telah melangkah sangat jauh bagi seorang yang mulai dikenal khalayak publik sebagai seorang bintang reality show. Bahkan lebih jauh daripada saudari tirinya, Kim Kardashian. Mematahkan stigma seorang bintang reality show bukanlah hal yang mudah bagi saya. Meskipun apa yang ia telah capai begitu banyak di usiannya, saya yakin masih ada yang menganggapnya bodoh, tidak berbakat dan beruntung karena lahir sebagai Jenner/Kardashian. Ada pula yang beranggapan ia bisa menjadi model seperti sekarang ini karena koneksinya yang luar biasa. Orang-orang bisa saja sinis dan mencibir karena koneksinya. Tapi apakah ada yang ingat apabila sutradara Sofia Coppola tidak memiliki ayah seorang Francis Ford Coppola, apakah ia akan seterkenal sekarang. Hal yang sama juga berlaku terhadap Drew Barrymore, Kate Hudson, Nicolas Cage atau Colin Hanks. Tapi apakah ada yang sinis terhadap mereka karena koneksi keluarga mereka. Jawabannya adalah tidak. Sejak kapan koneksi tidak dimanfaatkan ketika kita menginginkan sesuatu? 
       Maka, saya pun tidak peduli terhadap cibiran terhadap Kendall meskipun saya juga tidak peduli terhadap anggota keluarganya yang lain. Dan saya juga tidak peduli kalau Kendall beserta adiknya, Kylie telah menulis sebuah novel tahun ini dan juga meluncurkan merk busana. Saya peduli bahwa Kendall adalah wajah yang akan kita lihat paling tidak sampai 5 tahun ke depan.

9. Ariana Grande
    She's a bomb!!!! Tiny bomb with TNT power. Saya bukan fansnya tapi saya sulit menolak untuk mendengarkan apalagi menyayikan lagu-lagunya. Siapa yang tidak pernah mendegar Problem, Break Free, Bang Bang dan Love Me Harder sepanjang tahun ini. Mengusai radio dan juga Billboard. Semua single tersebut masuk dalam Top 10 Billboard 100 tahun ini walaupun tidak pernah menduduki peringkat pertama. Semua begitu adiktif.
     Album keduanya, My Everything, juga berhasil menduduki peringkat pertama Billboard 200 di minggu pertama penjualannya. Menjadikannya musisi wanita kedua setelah LeAnn Rimes yang berhasil menggiring 2 album dalam setahun ke peringkat pertama Billboard 200. Ia juga berhasil meraih MTV Video Music Awards tahun ini. Walaupun saya pribadi akhir-akhir ini meragukan kredibilitas penghargaan tersebut. Jangan lupakan pula ia dinominasikan untuk 2 Grammy tahun depan. Jalan masih panjang dan begitu terang bagi musisi 21 tahun ini.

8. Shailene Woodley
    Saya hampir selalu kehabisan kata-kata setiap kali melihat akting Woodley, terutama ketika ia bermain di film-film berbiaya rendah, seperti The Descendants (those tears!) dan The Spectacular Now. Setelah ia wara-wiri di musim penghargaan pada tahun 2012, saya sempat bertanya-tanya apakah ia akan muncul kembali mengingat setelah The Descendants, ia jelas tidak tampil di sebuah film. Saat itu saya menyayangkan, mengingat bakatnya dan tentu saja kecantikannya, kalau ia tidak tampil lagi atau publik tidak menyadari bakatnya. 
    Dan datanglah Divergent pada tahun ini. Semua mengubah kepopuleran bintang 21 tahun ini (Can we just stop talking about young age??? I feel so ancient!). Walaupun Divergent tidak memiliki kualitas sebaik The Hunger Games, tetapi tidak dapat dipungkiri apabila akting Woodley adalah kekuatan yang mengatrol kualitas film tersebut. Ia bersama Jennifer Lawrence membawa angin baru dalam menafsir ulang apa arti "girl power". 
    Beberapa bulan kemudian, ia tampil dalam film lain yang sama-sama diangkat dari sebuah novel "young adult", The Fault in Our Stars. Film ini makin mengukuhkan dirinya sebagai bintang. Ia tidak menampilkan karakter klise dalam film ini yang berbicara tentang penderita (kanker? Saya lupa. Maaf). Adegan dirinya bersama Laura Dern dalam film tersebut merupakan salah satu adegan film terbaik tahun ini. Tulus, menyentuh, membuat mata saya banjir air mata dan langsung ingat dan merindukan ibu saya. Hal ini tidak dapat terjadi apabila hanya keluar dari seorang aktris dengan kualitas rata-rata (atau apabila mengutip kata-kata Scott Rudin, "a minimally talented spoiled brat"). Adegan tersebut muncul karena kualitas dirinya (dan juga Dern). 
     Posisinya saat ini adalah posisi yang sangat berhak ia nikmati. Ia juga tidak malu dan begitu lantang terhadap isu-isu perempuan. Mengingat masih ada 3 film lanjutan Divergent, maka biasakan diri Anda untuk menatap kecantikan fisik dan bakat Woodley selama 3 tahun ke depan. Menonton penampilannya akan membuat Anda tenang dan yakin bahwa masa depan Hollywood masih cukup aman. 

7. Jennifer Lawrence 
    Sempat terpikir oleh saya untuk menempatkan dirinya pada peringkat pertama mengingat apa yang ia telah alami pada tahun 2014 ini. Dimulai dengan luar biasa, lalu terpuruk dengan cara yang tidak dapat kita semua bayangkan namun bisa bangkit kembali juga dengan cara yang di luar jangkauan kita sebagai manusia biasa. 
    Lawrence, bagi saya, adalah epidemi yang jarang kita lihat di Hollywood. Ia begitu muda, begitu berbakat dan begitu berpengaruh. Ia memulai tahun 2014 dengan gebrakan dengan meraih Golden Globe untuk kategori Best Supporting Actress untuk perannya di American Hustle. Ia terus wara-wiri sepanjang musim penghargaan tahun ini, termasuk sebagai nominee Oscar di kategori yang sama untuk peran yang sama walaupun ia kalah dari Lupita Nyong'O.
       Di bulan Mei, ia tampil di lanjutan X-Men, Days of Future Past. Film yang luar biasa bagi saya dan peran Lawrence disana tidak kecil tetapi cukup besar. Penampilannya yang memukau membuat film tersebut menjadi lebih baik lagi.
       Lalu datanglah bulan Agustus. Foto-foto telanjang Lawrence dan beberapa selebriti wanita lain tersebar di internet. Siapapun pasti akan kaget dengan hal tersebut. Jennifer Lawrence is our America's Sweetheart/Cool Girl. We love her. Bagaimana ini bisa terjadi? Ada apa dengan dia? Meskipun banyak nama-nama selebriti wanita terkenal di dalam daftar foto yang tersebar itu tetapi Lawrence lah nama yang paling besar dan bersinar. Saya pribadi langsung berpikir bagaimana ini bisa terjadi dan apa yang akan terjadi terhadap kariernya. Akhirnya pada Vanity Fair edisi November ia angkat bicara. Bagaimana ia berusaha untuk menghadapi "skandal" tersebut dan ia menolak meminta maaf seperti kebanyakan selebriti Hollywood yang terlibat "skandal" meskipun "skandal" tersebut bukan kesalahan mereka. Ia berusaha untuk menulis pernyataan meminta maaf tetapi semakin ia berusaha semakin ia berjuang dan menyadari bahwa hal tersebut bukan kesalahannya. Ia mengatakan foto-foto tersebut ia buat untuk kekasihnya saat itu, Nicholas Hoult (sekarang sudah tidak, fyi). Mereka menjalani hubungan jarak jauh yang artinya bagi Lawrence, "lebih baik ia melihat foto bugil saya daripada melihat porno. It's my body and it's my choice". Saya main menyukainya karena ia semakin menjadi antitesis bagi Hollywood. Ia tidak perlu meminta maaf apabila itu bukan kesalahannya.
     Kariernya pun terbukti tidak menjadi masalah. Film ketiga dari serial The Hunger Games, Mockingjay Part 1, tetap sukses di pasaran. Dunia masih ingin melihat Lawrence sebagai heroine, Katniss Everdeen. Walaupun Mockingjay tidak sesukses dua film pendahulunya. Tapi terlepas dari hal tersebut, Lawrence masihlah aktris utama di Hollywood. Semua masih membutuhkannya. Mencintainya. 

6. Lorde
     Single "Royals" pada dasarnya dirilis pada tahun 2013 dan menjadi hit besar pada saat itu. Bernada edgy dan gelap. Siapa yang menyangka bahwa lagu tersebut ditulis dan dinyanyikan oleh penyanyi berusia 17 tahun dan berasal dari Selandia Baru. Dan tidak hanya "Royals" yang menarik dari album debutnya, Pure Heroine, tetapi juga beberapa lagu yang lain.
  Awal tahun ini ia meraih 4 nominasi Grammy dan memenangkan 2 diantaranya, yaitu Song of the Year dan Best Pop Vocal Performance. Hal ini menjadikannya sebagai orang termuda ketiga yang pernah meraih Grammy dan menjadikannya sebagai orang Selandia Baru termuda yang pernah memenangkan Grammy. Ia juga memenangkan MTV VMA dan Bilboard Awards tahun ini. Walaupun saya tidak mengandalkan kredibilitas kedua penghargaan tersebut, terutama VMA. Ia juga diberikan kepercayaan untuk menciptakan dan membawakan soundtrack untuk film Mockingjay, Part 1 yang berjudul Yellow Flicker Beat.
    Yang saya suka dari lorde selain musiknya adalah dirinya yang merupakan antitesis dari penyanyi-penyanyi perempuan yang masih muda di luar sana. Rambutnya hitam legam, lebat dan seakan susah dirapikan. Penampilannya yang gothic dan cuek membuat dirinya makin disukai dan memiliki ciri khas. Yah, walaupun saya sadar mungkin itu adalah salah satu strategi pemasaran dirinya. Tapi jangan lupa ia juga seseorang yang vokal dalam mengungkapkan pikirannya termasuk persoalan perempuan. Saya rasa kita perlu lebih banyak lagi musisi perempuan seperti dirinya yang tidak hanya menjual tubuh dan seksualitas agar bisa sukses, yang tidak perlu menjual sensasi untuk berhasil (ingat itu, Gaga?) dan yakin dan percaya diri terhadap dirinya sendiri. Dan ia masih 18 tahun!!!! 18 TAHUN!

5. Joan Rivers
    She's a legend!!!! Saya tau bahwa saya memasukan Rivers dalam daftar ini semata-mata hanya karena saya adalah fans beratnya! Tiap minggu dalam beberapa tahun terakhir, ia dan skuad Fashion Police-nya berhasil membuat saya tertawa terpingkal-pingkal hingga perut sakit dan air mata keluar. Ia luar biasa lucu walaupun seringkali harus saya akui bahwa terkadang leluconnya benar-benar tidak lucu dan kasar dan tidak memiliki perasaan. Seperti leluconnya tentang Lady Diana atau rakyat Palestina. Bahkan teman saya berkata mungkin saja leluconnya tentang rakyat Palestinalah yang membawa dirinya kepada kematian dan memang tidak salah mengingat tak lama dirinya membuat lelucon tersebut dirinya mengalami kegagalan operasi yang berakhir dengan nyawanya yang melayang. Lebih miris lagi ia meninggal ketika dirinya sedang menjalani operasi pita suara. That!
     Tetapi saya melihat lebih daripada itu. Rivers adalah sosok yang perlu dihormati, terlepas dari Anda suka atau tidak dengan leluconnya. Mengutip kata-kata Samuel L. Jackson tentang kematian Rivers, "Love Her or Hate Her, we're gonna Miss JOAN RIVERS! I always Respected her go for broke humor. One of a kind.R.I.P."
      Yes, I miss her, a lot!! Setelah dirinya meninggal otomatis acara Fashion Police hibernasi hingga Januari esok dan otamatis pula saya kekurangan tawa yang tulus yang keluar dari diri saya sendiri. Saya menyukainya tidak hanya karena leluconnya yang "push the envelope" dan membuat kita berpikir (it's not kinda jokes you get from Dahsyat or Sahur time - bahkan Obama berkata "Joan didn't just make us laugh, but also think") tetapi juga karena karier Rivers telah dimulai sejak dekade 60-an, sebuah hal yang saya yakini bukan hal yang mudah bagi seorang komedian apalagi komedian perempuan. Ia telah mengalami pasang surut karier selama bertahun-tahun dan baru kembali ke puncaknya ketika ia menjadi host utama acara Fashion Police yang ditayangkan. Ia kembali ke puncak ketika usianya sudah tidak muda lagi (sangat lanjut kalau mau jujur). Ia membuka jalan bagi banyak komedian perempuan dan ia mengubah selamanya budaya karpet merah di ajang penghargaan. Ia sangat berperan dalam hal tersebut. Sayangnya kita tidak lagi bisa mendengarkan leluconnya lagi. Kita hanya bisa mengingat kembali apa yang pernah ia ucapkan. Ia meninggal ketika ia sedang di puncak kariernya. Puncak karier yang ia raih di usia 81 tahun. Apakah itu tidak cukup untuk membuat kita kagum? Saya selalu kagum. Dan merindukannya. Love you, Joan!!!

4. Shonda Rimes
     Sejak saya masih berseragam putih abu-abu, serial Grey's Anatomy yang diciptakan oleh Shonda Rimes begitu populer. Saya, kakak saya dan beberapa teman saya juga tidak ketinggalan menonton (walaupun kini sudah tidak). Dan hampir 10 tahun kemudian, Grey's Anatomy masih bertahan di musim kesebelasnya. Bahkan Rimes lebih berjaya daripada sebelumnya. Ia telah berhasil meluncurkan dua serial baru yang bahkan lebih sukses daripada Grey's Anatomy, yaitu Scandal dan How to Get Away with Murder.
     Scandal berhasil menjadi bagian utama dari pop culture Amerika Serikat, terutama dengan karakter Olivia Pope yang dipernakan oleh Kerry Washinton. Dan kini How to Get Away with Murder juga menjadi perbincangan, terutama karena keberanian Rimes dalam menampilkan adegan seks khususnya gay.
      Bahkan di Amerika sendiri ada sebutan Shonda Night yang disebabkan ketiga serial ciptaan Rimes ditampilkan pada Kamis malah secara berurutan dan berhasil menggaet rating yang tinggi. Washington dan Viola Davis, pemeran utama di How to Get Away with Murder, berhasil meraih nominasi di ajang penghargaan mulai dari Primetime Emmy, Screen Actor Guild Awards dan Golden Globe.
     Rimes adalah fenomena yang langka dalam dunia hiburan Amerika, khususnya pertelevisian. Saya yakin tidak banyak yang seperti dia. Wanita kulit hitam yang berhasil berperan penting dan menunjukkan giginya di belakang layar. Bukan hal mudah dengan apa yang ia capai sejauh ini. Perlu dedikasi dan jiwa yang kuat untuk meraih semua itu. Ia adalah sebuah harapan bagi wanita di luar sana untuk dapat berkarier setinggi dan sebaik mungkin. Shondaland will not be over yet anytime soon. Believe me!

3. Laverne Cox
  Stereotype transgender selalu negatif dan dipandang rendah oleh kebanyakan masyarakat. Mereka dianggap sampah masyarakat dan bertentangan dengan agama maka tidak perlu heran apabila mereka hanya memiliki keterbatasan ketika berhadapan dengan apa yang disebut sebagai karier. Tetapi Laverne Cox menatahkan semua stigma tersebut dan berhasil emnunjukkan bahwa transgender tidak harus menjadi orang terpinggir. Transgender juga bisa memiliki bakat dan berkarya.
      Kita pertama kali dikenalkan dengan Cox adalah ketika ia tampil di musim pertama serial yang sukses besar, Orang is the New Black, dimana ia berperan sebagai tahanan transgender yang memiliki jasa salon di dalam penjara. Dan dimulai dari sanalah namanya mulai mendunia.
     Ia menjadi transgender pertama yang tampil sebagai model sampul majalah Time dan ia juga transgender pertama yang mendapatkan nominasi di ajang penghargaan Primetime Emmy Awards dimana ia dinominasikan untuk Outstanding Guest Actress in Comedy lewat perannya sebagai Sophia Burset. Kedua hal tersebut terjadi pada tahun ini.
     Saya rasa apa yang ia capai bukan hal yang mudah mengingat ia adalah seorang transgender. (Saya selalu menyukai kisah-kisah wanita sukses). Ia adalah sebuah inspirasi, bukan hanya bagi transgender, tetapi juga seluruh manusia yang merasa "perbedaan yang dimiliki" bisa menjadi sebuah kekuatan untuk terus maju dan sukses.

2. Beyonce
  Who is Beyonce? Saya rasa orang-orang yang menanyakan hal tersebut sepertinya hidup di dalam got. Orang tua saya aja tau Beyonce itu siapa. Saya rasa bintang yang paling dibicarakan tahun ini dengan bakat yang luar biasa (hello, Kim!) adalah Beyonce. Ia bahkan tidak merilis album atau film layar lebar pada tahun ini!!
   Album terakhirnya yang diberi judul dari namanya, beyonce, dirilis secara tiba-tiba pada 13 Desember 2013 dan langsung sukses besar. Tidak ada satupun yang mengetahui apabila albumnya tersebut akan dirilis pada saat itu. Cara yang luar biasa cerdas untuk merilis album dan hal ini bagi saya adalah sebuah sejarah karena bagi saya siapapun yang berusaha mengikuti jejak Beyonce dalam merilis album akan terasa usang. She's smart.
     Walaupun tidak ada single dari album tersebut yang berhasil menduduki peringkat 1 di Billboard Hot 100 tetapi tidak ada yang peduli (Albumnya sendiri menduduki peringkat 1). Tur musiknya bersama sang suami, Jay-Z, yang diberi nama On the Run sukses besar. Ia dinobatkan sebagai musisi kulit hitam paling mahal sepanjang masa oleh Billboard. Jangan lupakan pula penampilan pembuka Grammy tahun ini oleh dirinya dan Jay-Z menjadi perbincangan dan bagi saya penampilan tersebut iconic dan seksi (the hair and the chair!!!). Ia juga diberikan penghargaan Michael Jackson Video Fanguard Award oleh MTV. Sebuah penghargaan yang amat layak untuk dirinya. Sudah sejak tahun 1999/2000 ia begitu bersinar. Saya pribadi tidak tahu kapan kira-kira sinar Beyonce akan meredup. Karena yah, ia adalah Beyonce.

1. Lupita Nyong'O
     Kisahnya bak kisah Cinderella. Setahun sebelum ajang Oscar tahun ini digelar tidak ada satupun orang di dunia ini yang mengenal namanya (nama yang eksotis bagi saya) tetapi Februari tahun ini semua tiba-tiba mengenal namanya. Semua jatuh cinta padanya, termasuk saya, ketika ia memenangkan Oscar untuk kategori Best Supporting Actress. Semua berdiri ketika namanya disebut. Penampilannya sebagai budak, Patsey, di film 12 Years A Slave sangat mempesona. Salah satu peran di film yang akan selalu diingat sepanjang masa. Begitu mentah dan pahit. Namun banyak orang yang khawator apakah Nyong'O akan bernasib sama dengan kebanyakan aktris kuliat hitam setelah memenangkan Oscar mengingat perannya di 12 Years A Slave sangat "memorable" yang membuat orang sulit untuk melihatnya berperan sebagai karakter yang lain. Belum lagi terbatasnya peran bagi aktris kulit hitam di Hollywood, seperti Halle Berry yang harus terjebak dalam peran-peran seksi yang menjual keindahan tubuhnya.
     Semua hal tersebut saya rasa salah total dan akhirnya saya pun mengakui salah karena sempat berpikir hal yang sama. Tak lama setelah ia memenangkan Oscar, Nyong'O langsung mendapat peran di film Star Wars terbaru. Film yang begitu besar. Selain itu ia juga akan berperan di versi terbaru dari The Jungle Book meskipun hanya sebagai pengisi suara. Tetapi dua film tersebut adalah dua film besar yang ditunggu banyak orang dan yang paling penting adalah orang-orang yang menggawangi kedua film tersebut adalah J. J. Abrams dan Jon Favreau. Ia juga akan berperan dalam film adaptasi dari novel sukses Americanah karya Chimamanda Ngozi Adichie. Ia juga berperan sebagai produser dalam film tersebut. Jangan lupakan ia juga berperan dalam film Non-Stop di tahun ini walapun perannya tidak besar dan tidak terlihat. tapi tetap luar biasa bukan?
     Ia juga didapuk sebagai wajah terbaru dari merk makeup legendaris, Lancome, yang sebelumnya dipercayakan kepada Julia Roberts, Penelope Cruz dan Kate Winslet. Dan ia juga dipilih oleh majalah people sebagai Most Beautiful Women untuk tahun ini. Suatu hal yang sangat saya setujui dan senangi. Tapi sayangnya saya sempat mencuri dengar langsung beberapa orang berkomentar "ya ampun Most Beautiful Women-nya orang item". Komentar yang sangat tidak pantas! Karena bagi banyak orang ia adalah kecantikan unik yang abadi. Ia memiliki bakat yang luar biasa yang siapa menyinari Hollywood karena sudah saatnya Hollywood dan dunia harus siap untuk memberi jalan bagi wanita kulit hitam yang "tidak putih". Bukan yang seperti Halle Berry, Beyonce atau Alicia Keys. Lupita Nyong'O telah membuka jalan tersebut, jalan untuk wanita-wanita seperti dirinya untuk bersinar di Hollywood. Saya angkat topi untuk itu, untuk dirinya.

Thursday, June 5, 2014

20 Film Terfavorit Sepanjang 2013

2013? Film yang dirilis tahun 2013? Apa? Ini udah Juni 2014 dan saya baru membuat tulisan ini sekarang? Yayaya, basi memang tapi jangan salahkan saya sepenuhnya karena menulis adalah kegiatan yang mebutuhkan niat yang besar, waktu yang pas dan inspirasi yang tepat. Masalah saya untuk tulisan ini adalah niat yang besar. 
Oke, tahun 2013 yang lalu adalah tahun yang membosankan untuk film sampai tiba saatnya saya menonton Gravity pada bulan Oktober. Bam! Ternyata 2013 menyimpan film-film terbaiknya di 3 bulan terakhir dan film-film yang dirilis dalam kurun waktu tersebut adalah film-film yang luar biasa, terbaik yang pernah dibuat. Berikut adalah 30 film yang saya paling sukai (bukan yang terbaik ya).

http://ia.media-imdb.com/images/M/MV5BMjI3MTM5ODI5MV5BMl5BanBnXkFtZTcwMjE1Mzc4OA@@._V1_SX640_SY720_.jpg20. Stoker
Bagi saya, Stoker adalah contoh sederhana dimana peranan sutradara sangat penting. Chan-wook Park sanggup mengubah naskah yang sebenarnya mudah ditebak tetapi menjadi film yang berkelas, enak dilihat dan cukup menegangkan. Penampilan yang bagus dari Nicole Kidman, Mia Wasikowska dan terutama Matthew Goode. Bagi saya film ini juga semacam gambaran tentang "kebangkitan seksual". Belum lagi, buat saya Stoker adalah film 2013 pertama yang benar-benar bagus.

 

http://ia.media-imdb.com/images/M/MV5BMTA1ODUzMDA3NzFeQTJeQWpwZ15BbWU3MDgxMTYxNTk@._V1_SX214_AL_.jpg


19. About Time
Romcom lain dari Rachel McAdams tetapi film ini justru menjadi milik Domnhall Gleeson. Gleeson membuat film ini menjadi sangat menghibur untuk ditonton dan cukup menyentuh. Awalnya saya pesimis dengan film ini dan kalau bukan karena digeret paksa oleh seorang teman, saya yakin belum menonton film ini sampai sekarang tapi ternyata film ini lebih baik daripada ekspektasi saya.


 

http://ia.media-imdb.com/images/M/MV5BNzQ5ODE4NTcxNV5BMl5BanBnXkFtZTgwNjkyNDQ0MDE@._V1_SX214_AL_.jpg18. August: Osage County
Sebenarnya saya harus mengakui bahwa film ini cukup menyia-nyiakan bakat-bakat yang terlibat di film ini. Meryl Streep, Julia Roberts, Chris Cooper, Margot Martindale, Benedict Cumberbatch, Abigail Breslin, Dermot Mulroney, Ewan McGregor, Juliette Lewis dan Julianne Nicholson tampil di film ini. Nama-nama yang sangat besar dan dihormati. Secara keseluruhan memang saya akui seperti kurang nendang tapi adegan makan malamnya menyelamatkan film ini. Makan malam termegah, terliar dan terkotor yang pernah saya tonton di sebuah film. Dramatis. Plus intrik yang cukup menarik. Meryl Streep seperti biasa mengagumkan, Margot Martindale menarik, Chris Cooper cukup bersinar, Benedict Cumberbatch membingungkan, tetapi Julia Roberts-lah yang paling gemilang. Dinominasikan untuk Best Actress (Meryl Streep) dan Best Supporting Actress (Julia Roberts) untuk Oscar tahun ini.

http://www.liveforfilms.com/wp-content/uploads/2013/11/Kill-Your-Darlings-Poster.jpg17.  Kill Your Darlings
Saya adalah penggemar Harry Potter, baik film maupun novelnya sehingga tidak heran saya selalu antusias tentang film-film pasca Harry Potter bagi tiga bintang utamanya, Daniel Radcliffe, Emma Watson dan Rupert Grint. Kalau di tahun 2013, Rupert Grint tidak terdengar atau film Emma Watson, The Bling Ring, kurang layak maka tidak begitu dengan Daniel Radcliffe. Filmnya, Kill Your Darlings cukup indah walaupun sedikit melankolis. Penampilannya beserta Dane DeHaan begitu kuat sehingga membuat film ini menarik untuk ditonton. Plus film ini sedikit memberikan gambaran kepada kita awal dari Beat Generation yang tersohor itu.


http://skarsgardfans.com/wp-content/uploads/2013/03/WhatMaisieKnew.jpg16. What Maisie Knew
Alasan saya menonton film ini hanya karena ada Julianne Moore di dalamnya tetapi film ini lebih dari sekedar penampilan Julianne Moore. Cerita dalam film ini terasa sangat riil dimana anak menjadi korban paling menyedihkan dari perceraian orang tua, terlebih lagi orang tua yang abai, egois dan menjijikkan yang diperankan oleh Julianne Moore dan Steve Coogan. Seharusnya Julianne Moore mendapatkan nominasi Oscar untuk perannya disini.




http://ia.media-imdb.com/images/M/MV5BMjI2MjIwMDk2Ml5BMl5BanBnXkFtZTcwNTQ1MzQ5OQ@@._V1_SX214_AL_.jpg15.  Enough Said
Salah satu peran terakhir dari James Gandolfini. Film romcom/dramedy yang jarang ada untuk penonton usia 40an - 50an. Cerita kesempatan kedua dan pendewasaan. Penampilan Julia Louis-Dreyfuss yang jujur dan James Gandolfini yang hangat (layaknya teddy bear) serta naskah yang kuat membuat Enough Said layak menjadi selingan ringan namun berbobot untuk Anda.



 

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/0/08/Twenty_Feet_From_Stardom_poster.jpg
14. 20 Feet from Stardom
Cukup banyak dokumenter di 2013 yang lalu yang saya tonton, termasuk Blackfish dan Stories We Tell tetapi 20 Feet from Stardom adalah yang paling unggul di antara semuanya. Belum lagi sangat menghibur. Kalau Anda pencinta musik maka film ini sangat pas untuk Anda. Berkisah tentang penyanyi-penyanyi latar bagi penyanyi ataupun band legendaris yang berjuang untuk mewujudkan mimpi mereka menjadi lebih dari sekedar penyanyi latar, yaitu penyanyi utama. Wajar jika Anda ketika menonton film ini akan merasakan kesedihan, patah hati, miris, bahagia, terpukau, bersenandung ataupun  menggerakan kaki Anda. Meraih Oscar tahun ini untuk Best Documentary Feature.

http://ia.media-imdb.com/images/M/MV5BNjkxMTc0MDc4N15BMl5BanBnXkFtZTgwODUyNTI1MDE@._V1_SX214_AL_.jpg13. American Hustle
Film yang glamor, cepat, lucu dan dipenuhi penampilan-penampilan yang memukau dan berlapis. Amy Adams, Christian Bale, Jennifer Lawrence, Bradley Cooper, Jeremy Renner, Louis C.K. dan Alessandro Nivola bersinar di sini (walaupun penampilan DeNiro membuat saya, "hmmm"). Semakin mengukuhkan David O. Russell sebagai "actor's director" karena selalu mampu mengeluarkan yang terbaik dari aktor dan aktrisnya. Dinominasikan 10 Oscar pada tahun ini termasuk, Best Picture, Best Director, Best Actor (Bale), Best Actress (Adams), Best Supporting Actor (Cooper) dan Best Original Screenplay.

http://ia.media-imdb.com/images/M/MV5BOTY0NDQ2NzQ2N15BMl5BanBnXkFtZTcwMTU0OTkwOQ@@._V1_SX640_SY720_.jpg12. Frances Ha
Campuran antara Manhattan (atau Annie Hall) dan serial Girls. Lucu, unik dan 'charming'. Film hitam putih paling menarik dan menghibur di tahun 2013 yang lalu (bukan berarti film hitam putih yang lain, Nebraska dan Much Ado About Nothing, tidak bagus).  Greta Gerwig memukau. Film yang cocok bagi Anda yang mengaku 'geeky' atau 'nerd'.






Extra Large Movie Poster Image for Mud11. Mud
Film ini seperti penceritaan ulang dari kisah Huckleberry Finn, ke arah yang lebih gelap (dan jauh lebih baik daripada Snow White and the Huntsman atau Maleficent- duh!). Bagi saya pribadi penampilan Matthew McConaughey disini lebih memikat ketimbang di Dallas Buyers Club. Terdapat kekosongan, harapan dan misteri di dalam penampilannya. Walaupun Reese Witherspoon sama sekali hampa dan tidak berguna disini tetapi penampilan dua aktor muda disini, Tye Sheridan dan Jacob Lofland benar-benar juara dan paling mencuri perhatian disini.
 


http://thecinephiliac.files.wordpress.com/2013/06/the-kings-of-summer.jpg10. The Kings of Summer
Saya cukup mencintai Stand by Me dan The Kings of Summer benar-benar mengingatkan saya dengan film tersebut. Kisah sekumpulan remaja laki-laki yang bertualang di tengah hutan, bebas dari kekangan di sekitarnya. Lucu, segar dan ringan. Penampilan yang baik dari dua aktor mudanya, Nick Robinson dan Moises Arias serta ketulusan yang terasa dari yang terlibat dalam film ini.





http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/b/b8/Short_Term_12.jpg9. Short Term 12
Salah satu film yang kurang berdengung di tahun 2013 yang lalu padahal memiliki cerita yang menyentuh, hangat dan cukup lucu. Kisah yang mungkin akan membuat Anda sedikit depresi tetapi justru membuat Anda menjadi semangat dengan cara yang tidak klise. Brie Larson adalah jantung film ini. Ia yang memberikan jiwa dan menghidupkan kisah ini. Ia dan aktor-aktor muda lainnya merupakan alasan saya cukup tenang dengan masa depan perfilman Hollywood karena bakatnya dan yang lain yang lebih baik daripada sebagian aktor yang usianya jauh lebih tua daripada mereka.



http://www.mcmbuzz.com/wp-content/uploads/2013/03/Before-Midnight-poster-US-One-Sheet.jpg8. Before Midnight
Kelanjutan dari Before Sunset dan mungkin saja merupakan penutup dari kisah "Before...". Sembilan tahun dari Before Sunset, layaknya Before Sunset yang merupakan kelanjutan sembilan tahun setelah Before Sunrise. Kini Jesse dan Celine telah memiliki sepasang anak. Mereka kembali melewati kisah naik turun dalam hubungan mereka. Kisah naik turun yang tidak lagi seperti di dua filmnya. Kini mereka telah cukup lama bersama dan semakin tua yang membuat mereka semakin mudah terpicu. Kembali diisi ciri khas dari Before sebelumnya, yaitu dialog-dialog yang mengenyangkan dalam serta  'long shot' yang keren (adegan di dalam mobil bersama si kembar bagaimana mereka membuatnya?). Dinominasikan untuk Best Adapted Screenplay pada Oscar tahun ini.


http://static.rogerebert.com/uploads/movie/movie_poster/the-past-2013/large_wIFtsNAvrUh6b9JtHzj17KDA612.jpg7. The Past (Le Passe)
Film Perancis yang merupakan karya sutradara Iran pasca A Separation yang memukau. The Past pun juga tidak kalah memukau walaupun tidak seapik A Separation. The Past kembali menunjukkan Ashgar Farhadi sebagai sutradara yang ahli menjalin cerita kehidupan sehari-hari yang awalnya sederhana menjadi kisah yang menjelumit yang dibumbui dengan kejutan-kejutan yang menarik layaknya film thriller. Ia juga ahli dalam menampilkan karakter-karakter manusia biasa namun berlapis dan akan membuat terbagi, apakah akan membenci mereka atau menyukai mereka. Berenice Bejo meraih Best Actress pada Cannes Film Festival tahun lalu. 


http://ia.media-imdb.com/images/M/MV5BMTc0ODk5MzEyMV5BMl5BanBnXkFtZTcwMzI0MDY1OQ@@._V1_SX214_AL_.jpg 6. Blue Jasmine
Blue Jasmine adalah film paling menghibur dan paling mudah dicerna bagi saya dan mungkin favorit saya selain Manhattan. Kisah yang saya rasa banyak terjadi pada orang-orang di muka bumi ini. Film yang bagi saya entah kenapa lucu walaupun miris. Penampilan yang lebih dari sekedar luar biasa dari seorang Cate Blanchett. Sally Hawkins dan Bobby Canavale juga luar biasa. Meraih Best Actress untuk Blanchett pada Oscar tahun ini.




http://collider.com/wp-content/uploads/the-conjuring-poster.jpg
5. The Conjuring
Saya menonton film ini di bioskop hingga 3 kali. Jadi saya rasa tidak perlu penjelasan lebih jauh. Sudah begitu lama rasanya saya tidak menonton film horor yang benar-benar minus darah dan isi perut, film horor yang tidak saja menakutkan dan menegangkan tetapi juga masih memiliki hati dan penampilan yang bagus dari para pemainnya. Walaupun mencomot The Exorcist dan The Amityville Horror tapi The Conjuring adalah film horor yang sangat efektif bagi saya (walaupun saya tidak paham dengan si Annabelle itu). 



http://0707c778e0f1481535fe-36b693bb9065cd15445b260c56542cbf.r55.cf2.rackcdn.com//assets/1d4f49e0-9a31-11e2-919e-bc764e10239c.jpg4. The Hunger Games: Catching Fire
Lebih epik, lebih dramatis, lebih seru dan lebih mengoyak hati daripada film pertamanya. Film ini juga jauh lebih baik daripada novelnya, suatu hal yang aneh bukan? Semua berkat kerja luar biasa dari semua yang ada di film ini. Mulai dari para aktornya, sutradaranya hingga penata kostum. Saya sempat pesimis karena adanya pergantian sutradara dari Gary Ross ke Francis Lawrence yang memliki rekam jejak film yang kurang oke. Tapi semua itu sirna ketika saya menonton film ini. Jennifer Lawrence dan Josh Hutcherson kembali luar biasa. Liam Hemsworth kembali "worthless", Philip Seymoir Hoffman membuat penasaran dan Jena Malone mencuri perhatian. Tidak sabar dengan Mockingjay, Part I.

Extra Large Movie Poster Image for Her3. Her
Saya tidak begitu paham dengan konsep cinta dalam suatu hubungan percintaan (halah) tetapi kalau hal tersebut seperti yang digambarkan dalam Her maka membuat saya maju mundur. Film dengan kisah paling original pada tahun lalu dan film dengan pengisi suara paling menakjubkan sejak Finding Nemo. Scarlett Johansson memberikan jiwa ke dalam Her. Seksi, lucu, 'charming' dan menyenangkan. Joaquin Phoenix juga tidak kalah oke. Film yang unik, segar, membuat patah hati, terharu dan tertawa. Spike Jonze memang salah satu yang terbaik. Meraih Best Original Screenplay pada Oscar tahun ini. Walaupun sebenarnya 'The Moon Song" bagi saya lebih layak untuk meraih Best Original Song daripada "Let It Go" yang agak overrated tersebut.

http://ia.media-imdb.com/images/M/MV5BMjExMTEzODkyN15BMl5BanBnXkFtZTcwNTU4NTc4OQ@@._V1_SX214_AL_.jpg2. 12 Years a Slave
Salah satu film terpenting yang pernah dibuat di sejarah perfilman. Film yang membuat saya bersalah ketika menontonnya. Bersalah karena saya begitu menikmati betapa indahnya setiap aspek di film ini padahal filmnya memiliki kisah yang sangat memilukan. Akting yang luar biasa, sinematografi yang cantik (tatapan Solomon ke kamera yang artinya langsung ke penonton), naskah dan penyutradaraan yang kuat dan menyentuh atau scoring yang enak didengar. Lupita Nyong'O jelas angkat nama dan paling bersinar di film ini (raut wajah dan tatapannya saja sudah lebih dari sejuta kata), Michael Fassbender kembali menguatkan namanya sebagai aktor mumpuni, Chiwetel Ejiofor akhirnya memiliki peran yang menarik perhatian orang, Sarah Paulson mencuri perhatian, Paul Dano dan Paul Giamatti efektif ataupun Benedict Cumberbatch yang ambigu. Steve McQueen kembali total dalam membuat film tentang kisah terkelam manusia dengan cara yang sangat gamblang dan kali ini ia hanya membuat filmnya hanya dengan satu kamera saja saking terbatas dana yang ia miliki. Meraih Best Picture, Best Supporting Actress (Nyong'O) dan Best Adapted Screenplay pada Oscar tahun ini.

http://untitledflow.com/wp-content/uploads/2013/09/gravity-poster.jpg1. Gravity
Film terpenting lain yang pernah dibuat. Alfonso Quaron menunjukkan sekali lagi bahwa ia sutradara yang visioner dan tahu apa yang ia lakukan. Adegan pembuka yang merupakan long shot sepanjang lebih dari 10 menit, adegan aksi menegangkan yang tiada henti, heroine yang membuat kita terhubung dengan permasalahannya, 3D yang luar biasa (mungkin karena pengaruh menonton di IMAX juga) dan sekaligus kisah yang sebenarnya sangat sederhana. Quaron begitu apik menata itu semua. Efek visual yang keren. Film yang membuat saya menangis, memegang kursi saya sepanjang menontonnya dan tetap membuat saya berdegup 15 menit setelah keluar dari studio. Akting Sandra Bullock yang saya yakin sulit untuk dilakukan membuat karakternya begitu humanis. Ini adalah film yang sampai kini membuat saya bertanya-tanya, bagaimana mereka membuatnya. Meraih 7 Oscar termasuk Best Director.

Tuesday, June 3, 2014

10 Film yang Paling Ditunggu (Paro Kedua 2014)

Paro pertama 2014 dipenuhi film-film yang sangat menghibur dan juga berkualitas. Lego Movie, X-Men: Days of Future Past, Captain America: Winter Soldier, Edge of Tomorrow dan Godzilla (sori, saya cukup suka dengan Godzilla yang baru). Hal ini bikin seneng banget karena buat saya tahun 2013 benar-benar hambar dan baru luar biasa ketika masuk film-film akhir tahun. Nah, karena udah masuk bulan Juni, saya akan buat daftar 10 film yang sangat saya tunggu di 6 bulan terakhir di 2014 ini.

10. Maleficent
Sudah dari tahun lalu, Maleficent membuat saya penasaran dengan teaser trailer dan posternya. Tulang pipi dan tanduk Angelina Jolie membuat saya penasaran dengan sisi gelap cerita Sleeping Beauty (walaupun saya sama sekali tidak tahu kisah puteri Disney yang satu ini). Belum lagi, perspektif cerita diambil dari sisi Maleficent. Plus film ini juga ada Elle Fanning! Walaupun mungkin "retelling" kisah Disney sedang marak, saya tetap menunggu film ini yang kabarnya tayang besok! (4 Juni 2014)





9. The Hunger Games: Mockingjay, Part I
MockingjayPart1Poster.jpgYap, saya penggemar serial novel The Hunger Games dan lebih istimewanya, versi filmnya (terutama Catching Fire) lebih baik atau bahkan lebih baik daripada novelnya sendiri (thanks to Jennifer Lawrence and Josh Hutcherson). Jadi tidak salah dong, kalo saya lebih menantikan versi film Mockingjay ketimbang membaca ulang Mockingjay. Mengikuti tren Harry Potter dan Twilight yang buku terakhirnya dibagi menjadi 2 bagian (duit tentunya), Mockingjay dibagi menjadi dua bagian. Oh, Philip Seymour Hoffman akan lebih banyak porsinya (already miss him) dan Julianne Moore ikut bergabung! Alasan apalagi yang dibutuhkan, hah? (Rilis Amerika Serikat: 21 November 2014)



8. Big Eyes
Sudah lama rasanya Tim Burton membuat film live action yang benar-benar bagus. Sweeney Todd tidak begitu bisa saya nikmati berkat suaranya Johnny Depp dan Depp pula yang membintangi 2 film live action Burton terakhir (Alice in Wonderland dan Dark Shawdows) yang jujur saja, buruk buat saya. Belum lagi saya sudah putus asa dengan Depp akhir2 ini. Tapi berhubung Big Eyes tidak melibatkan Depp maka saya kembali percaya dengan Burton. Big Eyes dibintangi oleh Chritoph Waltz dan Amy Adams (mumpuni banget kan?) bercerita tentang pelukis Margaret Keane dan kasus hukumnya dengan suaminya. Gelap, gothic, unik dan stylish sepertinya akan menghiasi film ini. (Rilis AS: 25 Desember 2014)



7. Inherent Vice
Hanya satu sebenarnya alasan saya menantikan Inherent Vice: Paul Thomas Anderson. Saya sangat mencintai karya-karyanya (iya, The Master sangat dipecundangi oleh Oscar). Jadi alasan apalagi yang dibutuhkan? Oh berderet pemain mantap: Joaquin Phoenix, Reese Witherspoon, Josh Brolin, Jena Malone, Benicio del Toro, Owen Wilson dan Maya Rudolph. Kurang? (Rilis AS: 12 Desember 2014)






6. How to  Train Your Dragon 2
Salah satu film yang saya sesali tidak saya tonton di bioskop adalah How to Train Your Dragon (2010). Filmnya luar biasa seru, menghibur dan ternyata menyentuh. Sampai ada istilah film tersebut lebih seperti karya Pixar daripada DreamWorks Animation. Saya sangat setuju. Walaupun awalnya saya pesimis karena ini sekuel tapi ternyata ulasan-ulasan awal yang ada selama Cannes Film Festival kemarin sangat bagus. Jadi kepercayaan saya telah kembali. (Rilis AS; 13 Juni 2014)





5. Boyhood
Richard Linklater adalah salah satu sineas dengan visi paling menarik. Setelah trilogi Before (Before Sunrise, Before Sunset, Before Midnight) dan Scanner Darkly, kini iya membuat film dengan waktu syuting yang memakan waktu selama 12 tahun. Iya 12 TAHUN! Film ini menceritakan kehidupan Mason dari usia 5 sampai dengan 18 tahun. Pemeran Mason adari usia 5 sampai 18 tahun adalah aktor yang sama. Saya pernah baca kalo ga salah Linklater melakukan hal tersebut karena ingin menangkap esensinya jadi jangan heran kenapa butuh 12 tahun sampai selesai. Tonton trailernya dan Anda akan mengerti. (Rilis AS: 11 Juli 2014)



4. Interstellar

Ah Nolan. Perlu saya jelasin lagi? Trailernya seperti gabungan Gravity, Apollo 13 dan True Detective (apa coba) Pemainnya terdiri dari Matthew McConaughey (fresh form the Oscars oven), Jessica Chastain, Anne Hathaway, Casey Affleck, Ellen Burstyn, David Oyelowo, Topher Grace dan Wes Bentley. Ceritanya? Entah. Yang penting siapkan IQ Anda. (Rilis AS: 7 November 2014)






3. Into the Woods

Salah satu film favorit saya sepanjang masa dan film musikal yang paling saya sukai, Chicago, disutradarai oleh Rob Marshall. Tapi sayangnya pasca Chicago, Marshall tidak pernah membuat film yang benar-benar bagus. Nine menarik karena 60an dan pesona bintangnya. Pirates of Carribean 4? Hah! Memoirs of a Geisha mungkin yang paling menghibur di mata dan mungkin telinga (scoring-nya John Williams). Tapi hal itu tidak membuat saya surut dengan Into the Woods. Nama-nama seperti Emily Blunt, Anna Kendrick,Johnnye Depp (iya), Christine Branski, Chris Pine dan tentunya Meryl Streep the Great ikut bagian. Ah! Lagipula saya kangen dengan musikal yang benar-benar menghibur dan bagus. Sori Les Miserables bukan untuk saya. (Rilis AS: 25 Desember 2014)


2. The Disappearance of Eleanor Rigby Her and Him

Proses produksi selama 7 tahun dan melibatkan James McAvoy dan salah satu aktris favorit saya, Jessica Chastain adalah 2 dari sekian alasan saya ngebet pengen nonton ini. The Disappearance of Eleanor Rigby terdiri dua film (bahkan tiga), yaitu Her dan Him. Her diceritakan dari sudut pandang sang istri (Chastain) dan Him dari sang suami (McAvoy). Kisahnya sendiri tentang pasangan suami istri yang mengalami hubungan yang renggang dan akhirnya sang istri menghilang. Terdengar depresif? Iya, sangat suka film-film yang depresif. Sebenarnya ada versi terbarunya, yaitu The Disappearance of Eleanor Rigby; Them yang merupakan gabungan dari Him dan Her tapi saya lebih pengan nonton 2 versi yang lain karena terasa lebih lengkap kisahnya. (Rilis AS: Akhir tahun 2014)


1. Gone Girl

Oh, kalo Anda membaca novel Gone Girl karya Gillian Flynn, Anda pasti sangat paham kenapa saya menempatkan film ini di posisi paling atas yang paling saya tunggu. Saya hanya ingin tahu seperti apa jadinya twist sinting novelnya dibawa ke medium film. Plus film ini ditangani oleh sutradara paling saya sukai, David Fincher. Ia selalu tahu bagaimana membuat film thriller yang berkelas. Menurut Trent Rznor yang mengerjakan scoring-nya, film ini jauh lebih kelam daripada yang ia bayangkan sebelumnya. Akhirnya pula Rosamund Pike mendapatkan kendaraan yang luar biasa untuk membuat dunia tau siapa dia. Sudah saatnya.(Rilisi AS; 3 Oktober 2014)