Thursday, May 23, 2013

Ulasan Film: Evil Dead

      


Pemain: Jane Levy, Shiloh Fernandez, Lou Taylor Pucci, Jessica Lucas, 
               Elizabeth Blackmore

Sutradara: Fede Alvarez

      Awalnya saya skeptis banget film ini bisa tayang di Pekanbaru secara reguler (karena hanya tayang di jam midnight saja), maklmu film-fillm yang tayang di kota ini cenderung "mainstream". Tapi kemarin saya cukup kaget Evil Dead tayang bahkan tayang di bioskop non 21 yang ada di seberang kantor saya.

       Evil Dead yang rilis tahun ini merupakan remake dari The Evil Dead yang rilis tahun 1981. Maka sebelum saya menonton versi remake-nya, saya memutuskan untuk menonton versi aslinya beberapa hari yang lalu. Bagi saya, versi aslinya untuk tahun 1981 merupakan sebuah film horor/slasher yang lumayan bikin ngeri karena kesadisannya, selain itu juga lumayan lucu karena para wanita yang dirasuki iblis bertingkah serem tapi lumayan lucu. Padahal buat saya pribadi ga ada satu pun film horor/slasher jadul/klasik Hollywood yang pernah bener-bener bikin saya bergidik. Oya versi asli Evil Dead ini disutradarai oleh Sam Raimi yang membesut tiga film pertama dari Spider-Man loh. Oke, lalu bagaimana dengan versi remake ini?

      Film ini dibuka dengan adegan seorang gadis yang ditangkap lalu diikat dan dibakar hidup-hidup oleh ayahnya dan beberapa orang karena dianggap telah dirasuki oleh iblis. Cerita kemudian berlanjut ke kisah lain, yaitu ketika sekumpulan anak muda berkumpul di sebuah kabin tua untuk membantu Mia (Jane Levy) untuk membersihkan dirinya dari narkoba. Dalam kumpulan itu kakak laki-lakinya beserta pacaranya dan kedua sahabatnya. Ketika mereka tinggal beberapa saat di dalam kabin tersebut, mereka mencium bau tidak sedap yang datang dari basement kabin tersebut dan ketika mengecek tempat tersebut, ternyata terdapat banyak bangkai tikus di dalamnya dan salah satu sahabat Mia menemukan buku tua dan ketika membawanya ke kamar, ia membaca secara diam-diam dan merapal mantra terlarang yang ada di dalamnya. Dan sejak saat itu kejadian mengerikan (dan juga sangat sadis terjadi)

      Ketika Mia berusaha kabur karena merasa bahwa hal aneh terjadi di sekitar kabin dan mobilnya terperosok ke dalam sebauh kolam, ia terjebak dalam hutan yang ternyata hidup dan membelitnya. Ketika ia kembali ke kabin semua menjadi kacau balau. Ia kerasukan iblis dan menulari tokoh-tokoh wanita lainnya.

      Jujur, sepanjang film ini saya merasa tidak nyaman karena bagi saya film ini kelewat sadis bahkan ketika filmnya sudah disensor oleh LSF sekalipun. Adegan lidah yang di'cutter merupakan adegan yang berhasil membuat saya goyang2 di kursi (bukan, bukan ajojing) dan menutup mata dengan kedua telapak tangan saya. Selain itu adegan memotong lengan dengan pemotong steak elektrik juga meringis.

      Tapi terlepas dari itu, harus diakui sinematografi film ini cukup cantik, terutama ketika adegan akhir ketika hujan darah. Bayangkan hujan darah yang begitu "cantik" dan Mia memakai gaun mini warna merah! Buat saya sih cantik. Selain adegan hujan darah tersebut, saya menyukai adegan di tengah hutan ketika mobil Mia terperosok. Ada kesan suram, seram tapi indah.

     Pujian khusus harus saya alamatkan kepada aktris utamanya, Jane Levy, yang tampil memukau di tengah film yang menawarkan sadisme tak henti. Tatapan mata beserta ekspresi wajahnya ketika memberi tahu kakaknya bahwa mereka harus segera mungkin meninggalkan kabin benar-benar penampilan yang wow buat saya. Dan senyumannya ketika ia dan kakaknya terhadang banjir yang menghancurkan jembatan juga berhasil membuiat saya merinding. Levy bukan tipikal aktris utama di film sejenis yang biasanya membuat karakter mereka menjadi bodoh dan mudah dilupakan.

    Mungkin apabila Levy tidak tampil sememukau itu dan sinematografinya tidak secantik itu, saya yakin film ini hanya akan menjadi film remake horor/slasher yang sampah dan ga akan ada bedanya dengan film "kejar bacok teriak kejar bacok" lainnya. Tidak semenarik versi aslinya, tapi tetap merupakan remake horor yang kualitasnya di atas rata-rata.

Urgh Moment: Ketika binatang entah apa namanya memasuki kelamin Mia

Beautiful Moment: Blood rain with little red dress

Scared-ass-shit Moment: Uncountable!! You can't count it.




Friday, May 3, 2013

Fifty Shades of Grey Movie Casting, Anyone?

          Tunggu sebentar! Saya mohon, jangan hanya karena kali ini saya mengkhususkan diri menulis tentang novel dewasa (dan luar biasa mesum) yang luar biasa sukses ini, lantas Anda menuduh dan menganggap saya juga mesum. Saya tiba-tiba saja ingin membahas tentang versi film novel ini yang sedang dalam tahap penggodokan. Saya pribadi benci sama novelnya karena tidak memiliki inti cerita, tata tulis yang luar biasa buruk dan buruk buruk buruk. Tapi tetap saja versi filmnya sangat saya tunggu karena saya ingin tahu apakah material yang buruk bisa dijadikan sebuah film yang baik tapi tetap panas. Mungkin sudah setengah tahun terakhir, situs-situs film dipenuhi update info terbaru tentang adaptasi novel ini ke film. Otomatis hal yang paling seru dibicarakan adalah siapa yang akan berperan sebagai pasangan terpanas dalam literatur (Nope! Bukan kamu Liz Bennett dan Mr. Darcy), yaitu Christian Grey dan Anastasia Steele. Oke kita mulai dengan Christian Grey.

CHRISTIAN GREY
1. Ian Somerhalder
    
    Saya sendiri tidak terlalu banyak tentang pemain utama serial Vampire Diaries ini, tapi berhubung saya adalah pelanggan tetap acara infotainment Hollywood (yang sayangnya tidak saya lakukan 4 bulan terakhir), saya jadi tahu siapa dia, terutama hubungan asmaranya dengan Nina Dobrev yang hmmm itu. Jujur, ketika membaya Fifty Shades of Grey (yang luar biasa jelek), saya membayangkan sosok Grey ya seperti dia. Rambut legam, tatapan mata yang dalam (Nicholas Saputra dalam Ada Apa dengan Cinta? mungkin?), tinggi semampai dengan tubuh layaknya model runway. Everything that connects with wealthy and sharp-looking-guy kan ada tuh di gambaran Grey dan apa yang Somerhalder miliki secara fisik sangat membuat dia pas berperan sebagai Christian Grey. Pertanyaannya adalah dapatkan Somerhalder berkating dengan baik sebagai Grey yang rapuh, pemangsa dan gelap itu? Yah bukunya sendiri sih ga ngegambarin hal-hal tersebut dengan baik karena terlalu sibuk mendeskripsikan kegiatan seks. Karena Somerhalder belum pernah saya liat main di film bagus, jadi kualitas aktingnya patut dipertanyakan.

2. Michael Fassbender
     
     I knooooooow he's a quite too old for this role. Tapi Fassbender punya apa yang tidak dimiliki oleh Somerhalder, yaitu kemampuan akting!!!! Ah Fassbender apalagi yang mau didebat soal aktingnya, hah? Oke dia mungkin terlalu tua untuk menjadi Grey tapi perannya di film Shame harusnya bisa menjadi referensi bagus kalau Fassbender bisa menjadi seorang "tycoon" pecandu seks yang seksi, menyeramkan, rapuh sekaligus menyedihkan. Just give him Steele and he's gonne rip her vajayjay off. :) Tunggu, siapa bilang Fassbender tidak memiliki fisik yang ada di Grey? Matanya cukup dalam, senyum bisa serem dan he could be tough version of Grey. 

3. Henry Cavill  
    
     He's fresh from Man of Steele suit and he could fly Steele to cloud 9 easily. Cavill si pemeran baru Superman mungkin bisa menjadi kandidat selanjutnya. Secara fisik cukup sesuai dengan penggambaran si Grey. Rambut legam, mata yang dalam walaupun kurang faktor X, yaitu tidak bisa semenggoda Grey. Hal yang dimiliki oleh Somerhalder dan Fassbender tetapi tidak terlalu dimiliki oleh Cavill. Aktingnya belum terlalu banyak untuk dilihat (Man of Steel baru rilis 14 Juni mendatang). Ia bisa dilihat di film 300-ish, Immortals. Mungkinkah dia yang akan memerankan si Grey mengingat namanya sedang panas-panasnya. 

Honorable Mentions: Stephen Amell (Arrow), Armie Hammer, Chris Evans, Alex Pettyfer, Alexander Skarsgaard

Just Forget Them: Robert Pattinson (Horror!), Channing Tatum (Too Boyish)

Need to Remember: Siapapun yang berperan sebagai Grey nantinya, harus siap untuk ditelanjangi secara harafiah, "bergelantungan" dan total dalam kepolosan. 


ANASTASIA STEELE

Yang perlu diingat, gambaran E.L. James (pengarang Fifty Shades of Grey) tentang Ana Steele adalah "menarik". Kenapa? Karena Steele sendiri tidak mengakui dirinya cantik tetapi bagi Grey, ia menggairahkan maka saya asumsikan Steele adalah dalam kategori perempuan menarik.

1. Alexis Bledel
    
    Usianya mungkin boleh saja telah menginjak 31 tahun tapi penampilannya masih seperti di awal 20an. Jujur selama membaca Fifty Shades, saya cukup susah lepas dari membayangkan sosok Bledel. Sosoknya yang imut dan pemalu terlihat cocok dengan gambaran yang tidak percaya diri. fisik Bledel pun seperti mendukung karena ia bukan tergolong wanita cantik tapi menarik. Lagipula kalau ia terpilih berperan sebagai Steele, peran ini bisa menjadi jalan kembalinya Bledel untuk diperhitungkan kembali di Hollywood setelah ia tidak lagi "bertaji" selepas Gilmore Girls dan dwilogi Sisterhood of Travelling Pants serta dapat menjadi cara membuang image-nya sebagai anak baik-baik. Dan sepertinya hal yang menarik untuk melihat Bledel polos

2. Anna Kendrick
   
     Oke, sepertinya Kendrick tidak akan repot-repot untuk memikirkan apakah ia akan mengambil peran ini.  Saya yakin sepenuhnya kalaupun ia ditawarkan peran ini, ia akan menolaknya karena pada dasarnya sepertinya ia lebih menyukai film-film kecil dengan cerita yang menarik daripada film yang ditunggu banyak orang. Tapi jujur loh Kendrick terkadang ada dalam imajinasi saya ketika membaca novel ini. Ia tidak cantik bahkan juga tidak menarik tetapi ada sesuatu dalam dirinya yang membuat kita tertarik. Ia juga terlihat cerdas (perannya di Up in the Air mungkin). Apabila Kendrick memang mengambil peran ini, saya yakin ia akan meningkatkan standar gambaran seorang Anastasia Steele dari yang sudah ada di benak kita semua.

3. Dakota Fanning
    
    Dakota Fanning bagi saya kalah jauh cantiknya dengan adiknya, Elle Fanning bahkan bagi saya Dakota tidak cantik tapi memang dia menarik. Banyak peran telah ia perankan pasca kebesarannya sebagai aktris cilik tetapi belum ada satupun peran yang benar-benar menghapus image-nya sebagai aktris cilik atau belum ada peran dewawanya yang menggigit (Apa? Saga Twilight? Mati aja!). Maka peran Steele bisa menjadi jalan bagi dirinya untuk mengubah itu semua. Saya yakin kegemilangannya ketika cilik masih tersimpan pada dirinya ketika dewasa ini. Tapi jujur, agak serem sih harus liat dirinya tampil polos. 

Honorable Mentions: Shailene Woodley (Mary Jane yang baru di sekuel Amazing Spider-Man mendatang), Kristen Connolly

Just Forget Them: Kristen Stewart (HORROR BUNNY!), Emma Watson (Too Gorgeous)

Need to Remember: Tidak perlu operasi plastik untuk mendapatkan dada Pamela Anderson, perut Gwyneth Paltrow dan bokong JLo. Semakin "mentah" sepertinya semakin baik. :)

-----------------------------------------------------------------------------------------------------

Intinya, saya mengharapkan versi filmnya tetap panas tetapi bisa jaaaaaauh lebih baik daripada versi novelnya yang begitu sampah. Semoga filmnya bisa menjadi thriller gelap yang erotis tetapi masih memiliki estetika dan berkelas. Mungkin bisa menjadi Basic Instinct generasi baru?



Thursday, May 2, 2013

Ulasan Film: IRON MAN 3


Pemain    : Robert Downey Jr., Gwyneth Palthrow, Guy Pearce, Don 
                  Cheadle, Rebecca Hall, Ty Simpkins, Ben Kingsley
Sutradara: Shane Black

       Tony Stark telah kembali! Iya memang secepat itu seakan-akan Stark sudah tidak tahan untuk tampil di layar perak. Iron Man 3 dibuka dengan kisah kilas balik Stark di Swiss, dimana saat itu Stark bertemu dengan Maya, seorang ahli tanaman muda yang sedang mengembangkan sebuah rekayasa DNA yang dapat menyembuhkan luka dengan cepat, dan memiliki "hubungan" singkat layaknya seorang Stark. Selain dengan Maya, dalam kisah balik juga dimunculkan karakter Killian yang merupakan seorang genetis yang merupakan penggemar hasil-hasil penemuan Maya. Dalam kisah balik tersebut, diceritakan Stark mengabaikan Killian, yang pada akhirnya sedikit banyak mempengaruhi sikap Killian terhadap Stark.
      Masuk ke masa kini, Stark ternyata mengalami serangan panik (anxiety attack) akibat petualangan terakhirnya bersama The Avengers sehingga membuat Stark mengalami gangguan tidur yang mengakibatkan ia senang mengutak-atik armor Iron Man-nya yang juga membuat hubungannya dengan Pepper Potts merenggang. Di saat bersaman muncul gangguan terorisme yang ditimbulkan oleh The Mandarin (yang diperankan oleh Ben Kingsley) yang makin memperumit kehidupan Stark terlebih ketika Stark mengumumkan konfrontasi terbuka terhadap Mandarin dengan memberitahukan alamat rumahnya di media nasional. Masalah makin rumit ketika Killian muncul kembali dalam kehidupan Stark, terutama Potts. 
      Jilid ketiga Iron Man ini, bagi saya merupakan sebuah peningkatan yang cukup besar setelah jilid keduanya yang membosankan dan mengecewakan (meskipun Mickey Rourke menarik disitu). Mungkin hal ini dipengaruhi bergantinya posisi sutradara yang kini berada di tangan Shane Black, sutradara yang menggarap film menarik Robert Downey Jr., Kiss Kiss Bang Bang di tahun 2005. Pengaruh Black sepertinya terasa dalam tone warna film, cerita yang sedikit lebih gelap daripada jilid-jilid sebelumnya dan juga humor yang renyah.
       Sebagai film musim panas dengan biaya amat besar, Iron Man 3 adalah tontonan yang sangat menghibur. Adegan aksinya seru. Adegan penyerbuan rumah Stark oleh helikopter-helikopter anak buah Killian berhasil membuat adrenalin cukup terpacu dan menjadi satu-satunya ajang 3D yang terasa bermanfaat (karena selain di adegan ini, tidak ada efek 3D yang tersa maksimal). Kostum-kostum Iron Man yang kali ini banyak jumlahnya dan kini bisa hanya dengan dipanggil dan akan terpasang otomatis. Munkin adegan yang paling sukai adalah pada saat Stark memakai kostum Iron Man dengan cara memanggilnya, bagaimana kostum tersebut terpakai sangat keren. Humor-humor yang ada di sepanjang film ini juga menghibur. Selain adegan tersebut, saya suka sekali dengan ke-bad ass-an seorang Pepper Potts. Bagaimana ternyata ia sekarang juga memakai kostum Iron Man (meskipun tidak disengaja). Potts (Palthgrow lebih tepatnya) terlihat luar biasa seksi dengan kegarangannya itu.
         Downey Jr. tampil dengan baik seperti biasanya. Palthrow dan Cheadle menjadi pemain pendukung yang pas. Begitu Jon Favreau yang bisa menimbulkan tawa setiap kali muncul. Untuk para pemain-pemain baru, yaitu Guy Pearce, Rebecca Hall dan Ben Kingsley juga tampil dengan baik. Pearce bermain layaknya antagonis langganan sekuel dengan pas. Kingsley juga berhasil menimbulkan rasa penasaran ketika ia masih dalam bentuk siaran TV (yang ternyata dengan berjalannya cerita tidak seseram itu, bahkan konyol dan janggal), tetapi mungkin angin segar datang dari Rebecca Hall yang meningkatkan standar kemenarikan dan keseksian seorang peneliti. Ia tidak cantik tapi auranya terpancar.
       Kalau ada kekurangan yang saya rasakan mungkin adalah tampilan Iron Man 3 yang sepanjang film lebih seperti program mahal dari saluran TV anak-anak, Nickelodeon, terlihat sekali produksi di dalam studionya. Mungkin memang disengaja seperti ini. Selain itu, gangguan yang saya rasakan adalah kurang kuatnya dasar seorang Stark mengalami gangguan mental seberat anxiety attack bahkan menurut saya kadang gangguan mental ini hanya terasa seperti bumbu. Jadi saya tidak benar-benar paham kenapa Stark bisa mengalami hal ini. 
       Terlepas dari kekurangannya, Iron Man 3 menetapkan standar tinggi bagi film-film besar musim panas tahun ini. Menghibur dan seru dengan beberapa twist kecil yang menarik sepanjang film.

Saturday, April 27, 2013

Ulasan Film: OBLIVION


Pemain     : Tom Cruise, Andrea Riseborough, Olga Kurylenko, 
                   Morgan Freeman, Melissa Leo
Sutradara : Joseph Kosinski
Durasi      : 124 menit

Perhatian! Mungkin terdapat spoiler dalam ulasan ini. 
    Sebenarnya, saya tidak terlalu ingin menonton Oblivion. Alasan pertama adalah ulasannya di rottentomatoes.com tidak begitu bagus (sekitar 60-an% ketika saya mentonton film ini di bioskop) dan alasan kedua adalah trailer-nya yang tidak begitu memikat. Tetapi entah alasan apa yang menarik saya untuk menonton Oblivion. 
       Oblivion bercerita tentang Jack Harper yang diperankan oleh Tom Cruise yang merupakan seorang teknisi dari sebuah pekerjaan yang dilakukan ketika bumi sudah hancur akibat perang nuklir antara manusia dan "alien" yang disebut 'scavanger'. Setting film ini berada di tahun 2077. Pada saat itu sebagian besar manusia telah pindah dari bumi dan hidup di luar angkasa di dalam sebuah pesawat luar angkasa, yang bernama Tet. Jack bertugas berpasangan dengan Victoria (Andrea Riseborough) yang bertugas semacam operator 'pesawat' yang melindungi Hydro yang mengekstraksi sumber daya bumi yang ada di lautan yang digunakan sebagai sumber daya pesawat ulang-alik tempat para manusia tinggal.
        Pada saat itu, Jack dan Victoria telah menyelesaikan tugas terakhir mereka sebelum bergabung dengan manusia lainnya di Tet tetapi tiba-tiba ketika Jack sedang bekerja, muncul pesawat luar angkasa yang jatuh ke bumi dan ternyata membawa manusia, termasuk seorang wanita yang sangat mirip dengan wanita yang selama ini muncul di mimpinya, Julia, yang dipernakan oleh Olga Kurylenko. Dan dimulailah cerita film ini, termasuk ketika seorang paro baya (yang diperankan Morgan Freeman) muncul di tengah cerita.
        Setelah menonton film ini, saya tidak terlalu memikirkan apa yang dikatakan oleh para kritikus. Bagi saya Oblivion menghibur dan yang pastinya memiliki sinematografi yang nikmat di mata. Selain itu tata artistiknya juga menarik (walaupun terkadang mengingatkan saya akan tata artistik yang ada di Prometheus). Adegan-adegan aksinya pun cukup seru, terutama ketika Jack memeriksa robot pelindung Hydro yang rusak/hilang entah kemana. Ceritanya memang tidak luar biasa, tetapi beberapa 'twist' yang ada di dalamnya cukup menghibur. 
        Tetapi tidak dapat dipungkiri ada rasa WALL-E disana-sini. Robot pelindung yang bisa menghancurkan yang mereka anggap musuh dan pesawat ulang-alik luar angkasa yang dianggap sebagai tempat tinggal manusia. Selain itu juga rasa Moon ada di dalam Oblivion. Saya menangkapnya ada di cerita tentang Jack Harper yang bekerja sebagai teknisi/pekerja kasar di luar angkasda yang berkaitan dengan sumber energi dan juga ada di kloning pekerja. Saya rasa hal ini yang mebuat lemah Oblivion karena membuatnya terkesan tidak orisinal.
        Selain itu cerita melemah ketika mencapai paro akhir ketika karakter Morgan Freeman muncul. Kenapa tiba-tiba Jack mau berkorban dan mengapa para manusia yang tersisa di bumi menganggap Jack sebagai komandan mereka. Selain itu saya meresakan akting Kurylenko yang payah dan agak buruk yang terkadang membuat saya tertawa miris. Bahkan saya tidak melihat pentingnya karakter yang dipernakan oleh Morgan Freeman kecuali ketika akhir film ketika ia menggantikan Julia untuk menghancurkan Sally, robot pemimpin yang menghancurkan bumi.
         Tetapi pada akhirnya, saya tetap menikmati Oblivion karena film ini tetap sebuah film sci-fi yang menghibur yang ketika menontonnya masih tetap memerlukan otak untuk mencernanya meskipun terdapat kekurangan disana-sini.

Monday, April 1, 2013

Ulasan Film: STOKER



Pemain: Mia Wasikowska, Matthew Goode, Nicole Kidman, Jacki Weaver, Dermot Mulroney
Sutradara: Park Chan-wook

 Mohon maaf, tulisan saya ini mungkin mengandung "spoiler".       
          Saya adalah pencinta film thriller, walaupun kecintaan saya akan genre thriller tidak sebesar kecintaan saya terhadap musikal, tetapi menonton genre thriller adalah kenikmatan tersendiri. Saya sudah menunggu film Stoker ini selama berbulan-bulan. Sejak menonton trailer-nya pertama kali, saya langsung jatuh cinta. Misterius, Mia Wasikowska dan "living icon" masa kini, Nicole Kidman cukup membuat saya amat menantikan film ini. Terlebih lagi ketika saya mengetahui bahwa film ini akan diputar di Indonesia. Maka ketika film ini duptar ketika jam tayang midnight minggu lalu. Saya ga ambil pikir panjang dan langsung menuju bioskop dengan wajah berseri-seri.
           Film ini dibuka dengan adegan dimana India Stoker (nama yang saya sukai dengan sangat) dimana beberapa kata yang saya ingat adalah "Just as flower does not choose its color, we are not responsible for what we have become to be. Only once you realize this do you become free." Ketika kata-kata ini keluar dari mulut India, saya pikir film ini akan dipenuhi dengan karakter-karakter aneh dan saya tidak sepenuhnya salah. 
          India adalah gadis 18 tahun berambut gelap dengan muka pucat dan tidak senang berbicara. Ia bahkan menjadi target "bully" di sekolahnya oleh beberapa anak. Ayahnya meninggal dalam kecelakaan mobil yang menurut beberapa pembantu rumah tangganya adalah sebuah kecelakaan yang misterius. Ia memiliki ibu yang jauh secara emosi yang diperankan oleh Nicole Kidman. India lebih dekat dengan ayahnya daripada ibunya, bahkan amat dekat dengan ayahnya. India selalu mendapatkan kado ulang tahun sepatu setiap tahunnya dengan model sepatu yang sama setiap tahunnya. Tapi anehnya di ulang tahun yang ke-18 (yang bertepatan dengan kematian ayahnya), ia malah mendapatkan kado berupa kunci alih-alih sepatu yang biasanya ia dapatkan. 
            Di saat bersamaan, pamannya yang bernama Charlie tiba-tiba datang. Charlie adalah paman yang selama ini India dan ibunya tidak pernah kenal bahkan mendengar keberadaannya pun tidak pernah. Oleh ayah India, ibunya hanya tahu kalau Charlie adalah petualang yang sering bepergian keliling dunia sehingga sulit untuk bertemu dengan keluarganya sendiri. Tapi detik ketika Charlie datang sudah terasa janggal. Kejanggalan cukup dilihat dari sorot matanya yang misterius dan seringkali mengerikan.
          Dari sini cerita berkembang, bagaimana hubungan Charlie dengan ibunya India, Charlie dengan India sendiri, kehidupan sehari-hari India dan rahasia yang melingkupi kehidupan ayah India dan Charlie. 
           Naskah film ini ditulis oleh Wentworth Miller, aktor yang pernah tampil sebagai aktor utama di serial Prison Break. Kejutan yang menarik bukan? Walaupun setelah dipikir-pikir, naskahnya bisa menjadi sebuah film klise bahkan buruk apabila tidak disutradarai dan dibintangi oleh orang-orang yang mumpuni. Maka acungan jempol perlu diberikan kepada sang sutradara, Park Chon-Wook, sutradara asala Korea Selatan. Di tangannya, naskah Stoker dapat menjadi film yang "stylish", menakutkan dan juga seksi. Sinematografi yang diberikannya (dan sinematografernya) begitu indah, elegan dan menarik. "Scoring" yang ada pun juga menarik, menambah kesan seram tapi juga bisa seksi.
        Nicole Kidman bermain dengan apik, sebagai istri yang seharusnya berduka tetapi seperti tidak ada kesedihan di dalam dirinya dan juga seorang ibu yang memang "jauh" dari anak gadisnya. Penampilan Mia Wasikowska juga menarik. Ia lebih banyak mengandalkan ekspresinya yang dingin dan kaku. Walaupun mungkin penampilannya tidak semenraik di Jane Eyre, tetapi ia adalah salah satu aktris muda yang dapa diandalkan. Bahkan aktris senior Jacki Weaver yang hanya tampil sekejap juga meninggalkan kesan. Tetapi acungan jempol perlu diberikan kepada Matthew Goode yang berperan sebagai Charlie Stoker, paman yang selama ini tidak pernah terdengar keberadaannya. Paman yang tampan. Paman yang misterius. Paman yang sakit jiwa. Paman yang mengerikan. Sorot matanya cukup membuat saya ingin bersembunyi di kolong tempat tidur. "Kemanisannya", kemisteriusannya dan setiap kata-katanya tidak dapat dipercaya. Tapi ia juga menampilkan sosok rapuh dibalik kengeriannya.
        Banyak adegan yang saya suka, tapi mungkin di antara itu semua saya paling menyukai adegan ketika India yang bermain piano dan Charlie menghampiri dirinya dan ikut bermain piano. Alunan piano beserta lentikan jari-jari mereka terlihat indah dan intens. Memainkan piano bersama Charlie, mungkin membuat India orgasme.
        Stoker is a stylish, sexy, chilling and creepy movie. Campuran Carrie, Lolita dan The Addams Family.